Thursday, 30 August 2007

Daerah Memarkir Dananya di SBI?

Presiden SBY mulai gerah melihat kenyataan banyaknya daerah yang tidak mengoptimalkan penggunanaan dana yang dimiliki untuk kegiatan pembanguan, tetapi mendepositokannya di bank atau membeli SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Menurut Umar Juoro, dalam artikel” Daerah Tidak Membelanjakan Dananya,” terdapat sekitar Rp. 96 Triliun dana pemerintah daerah yang mengendap di SBI saat ini. (Republika 27 Agustus 2007).
Kondisi ini sebetulnya tidak sehat karena pemerintah pusat telah mengalokasikan dana ke daerah dalam bentuk DAU (Dana Alokasi Umum) untuk mendanai program pembangunan yang telah dituangkan dalam APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah). Namun program dimaksud tidak berjalan berjalan optimal karena dana sebagian dibelikan ke SBI dan parahnya lagi BI harus membayar bunganya.

Sebenarnya daerah diizinkan untuk melakukan deposito, dengan syarat mendapat persetujuan dari DPRD terlebih dahulu. Namun harusnya bukan menjadi kegiatan utama, prioritas pertama pemerintah daerah harusnya tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan belanja modal yang akan mendorong kegiatan ekonomi lainnya, yang menciptakan multiplier effect.

Ada beberapa faktor yang mendorong pemerintah daerah memilih alternatif deposito atau membeli SBI ini, antara lain penerimaan daerah jauh lebih besar dari kebutuhan sehingga kebingungan dana yang besar mau digunakan untuk apa. Kondisi ini terjadi terutama pada daerah yang kaya minyak seperti Kalimantan Timur dan Riau.

Pertimbangan lain adalah deposito atau SBI adalah investasi paling aman. Pemerintah daerah tidak perlu direpotkan dengan urusan penyiapan rencana investasi yg rumit seperti studi kelayakan, proses yang rumit untuk mendapat izin, dan menghindarkan diri dari ancaman “penyalahgunaan” dana yang bisa saja berakibat pimpinan daerah diseret ke penjara. Kadang-kadang penyalahgunaan tersebut terjadi lebih karena ketidakpahaman akan peraturan, bukan karena sengaja. Meskipun kita tidak menutup mata, bahwa masih banyak penyelewengan yang disengaja.

Di satu sisi, tindakan pemerintah daerah memarkir dananya di SBI cukup positif. Artinya pemerintah daerah masih punya itikat baik “menyelamatkan” uang rakyat, tidak menghambur-hamburkannya atau dikorupsi seperti yang biasa terjadi. Meskipun kecil, tetapi dana pemerintah daerah tetap memperoleh profit dari bunga yang dibayarkan BI.

Namun, dari sudut pandang ekonomi makro, hal ini menguntungkan karena tidak menggerakkan sector riil. Keuntungan yang didapat hanya berasal dari bunga, sementara yang diharapkan, pemerintah daerah menjadi pihak yang memicu terjadinya bermacam-macam aktifitas ekonomi masyarakat. Jika pemerintah daerah membangun terminal baru yang representative dan modern misalnya, maka terminal ini akan menyebabkan berkembangnya ekonomi masyarakat sekitar terminal tersebut karena ada lapangan kerja baru yang terbuka, seperti kesempatan membuka usaha restaurant.

Contoh lain, jika pemerintah darah berinvestasi untuk mengembangkan usaha peternakan sapi perah, maka akan banyak multiplier effect-nya. Pertama, tenaga kerja untuk peternakan, perlu tenaga terampil untuk pengolahan susu, tenaga untuk distribusi, dan sarjana peternakan mendapatkan kesempatan kerja. Terus ada pihak ketiga yang akan mendapatkan proyek untuk mensuplay botol kemasanny, perusahaan percetakan yang akan mencetak logo produk dan lain-lain. Terakhir, kebutuhan masyarakat akan susu bisa terpenuhi, tidak lagi harus bergantung pada susu bubuk yang naik setiap tiga atau enam bulan sekali.

Selanjutnya, tidak terealisasinya belanja modal yang dianggarkan mencerminkan ketidakmampuan daerah menjalankan program yang dibuatnya sendiri. Implikasinya adalah ada problem dalam perencanaan program. Barangkali, anggaran dibuat sekenanya saja, tanpa kajian mendalam tentang apa kebutuhan daerah sebenarnya. Ketika dana sudah ada jadi bingung apa yang harus dilakukan. Maka dipilih jalan teraman dengan membeli SBI saja. Karena itu, perlu disadari oleh pemerintah daerah, memiliki banyak SBI bisa saja diartikan sebagai ketidakmampuan membuat program pembangunan yang real.

Lebih jauh, dari sisi manajemen keuangan, menyimpan uang di bank adalah pilihan terakhir karena masih banyak jenis investasi lain yang bisa memberi tingkat keuntungan lebih besar. Dengan bahasa lain, memarkir dana di bank adalah pilihan bagi orang yang ”malas” berfikir, yang lebih suka kenyamanan saja, yang tidak mau bersusah-susah, yang tidak mau mengambil resiko. Konsekwensinya, menerima tingkat pengembalian yang kecil. Orang-orang kreatif biasanya tidak suka meletakkan uangnya di bank, lalu goyang-goyang kaki saja. Tetapi mereka lebih suka berkarya, membuat sesuatu yang baru, yang lebih memberi tantangan, lebih menjanjikan ROI (Return on Investment) lebih besar, tapi tentu dengan resiko lebih besar juga. Istilahnya ada trade off dalam berinvestasi.

Selain ada pilihan investasi yang lebih mendorong pertumbuhan ekonomi sektor riil, rasanya agak aneh jika mengatakan dana berlebihan sementara kesejahteraan rakyat masih biasa-biasa saja, pelayanan umum masih jauh dari memuaskan dan pendidikan masih mahal. Masih banyak hal yang harus dibenahi, masih banyak PR yang harus diselesaikan. Jika memang kemakmuran rakyat sudah sedemikian baiknya di darah-daerah kaya, toh masih ada yang bisa diperbaiki. Sebagai contoh, menyediakan fasilitas khusus bagi orang cacat di tempat-tempat umum, atau memperbaiki sistem transportasi dengan yang lebih modern.

Tetapi sangat penting disadari kalau belanja modal bukan pos untuk membeli mobil saja, atau membangun kantor dan rumah pejabat baru tiap sekian tahun. Seringkali daerah salah kaprah menginterpretasikan belanja modal, dan digunakan hanya untuk pengadaan mobil baru saja, atau fasiltas lain yang sifatnya tidak produktif. Maka yang terjadi adalah pemda membeli mobil baru setiap tahun. Padahal maksud belanja modal adalah pengeluaran untuk pengadaan aset daerah yang akan masuk menjadi equity daerah dalam laporan keuangannya.

Untuk daerah seperti Riau dan Kalimantan Timur yang kenyataannya saat ini penerimaan lebih besar dari kebutuhan, sebetulnya masih banyak yang dapat dilakukan untuk maksimalisasi kesejahteraan rakyat dan antisipasi keadaan masa datang, jika cadangan minyak di daerah tersebut sudah tidak bisa diandalkan sebagai sumber penerimaan utama. Sangat penting melakukan investasi mulai dari sekarang, agar saat keadaan sulit itu datang, transisinya dapat berjalan dengan mulus, tanpa shouck yang berat.

Jika diidentifikasi akar dari persoalan ini adalah keterbatasan SDM yang dimiliki daerah untuk mengelola dana yang ada secara profesional. Daerah belum memiliki cukup SDM yang menguasai manajemen keuangan dengan baik. Keadaan ini berbeda sekali dengan yang ada di negara maju semisal Australia dimana pemerintah daerahnya memiliki satu divisi khusus yang mengelola kegiatan investasi ini. Divisi ini disisi oleh para profesional bidang keuangan, yang merupakan lulusan-lulusan terbaik di univeristas. Tugas mereka adalah bagaimana menyusun portpolio investasi pemerintah daerah, termasuk bermain saham di bursa efek

Mungkin hal ini masih terlalu jauh untuk diterapkan di Indonesia, tetapi keadaan masa datang menuntut seperti itu, terutama di era otonomi daerah. Peraturan keuangan daerah yang terbaru memungkinkan daerah untuk berimprovisasi menggali sumber-sumber pendapatannya sendiri dan membelanjakannya sesuai kebutuhan masing-masing. Pemda-pemda bisa diibaratkan seperti perusahan-perusahaan raksasa, yang memiliki sumber penerimaan sendiri, juga memiliki kebebasan untuk membelajakannya. Secara bertahap, ketergantungan daerah pada sumber penerimaan dari pusat akan dikurangi.

Dengan membawakan logika berfikir perusahaan, tentu pemda harus kreatif bagaimana caranya meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah),dan bagaimana caranya mengembangkan DAU yang diberikan oleh pusat. Di sinilah manajemen keunagan modern seperti yang berlaku di dunia bisnis sangat memegang peranan penting. Pemerintah daerah bisa mendirikan perusahan-perushaan daerah misalnya.Tetapi pengelolaannya mengadopsi manajemen sektor swasta karena organisasi yang paling efisien memang oraganisasi bisnis.

Pemerintah Daerah juga bisa berinvestasi di perusahaan-perusahaan yang sudah mapan, seperti perusahaan multi nasional atau di global company. Hal ini tengah giat-gitanya dilakukan oleh pemerintah Dubai dan Qatar saat ini, dimana mereka sudah menyadari bahaya akan berakhirnya masa kejayaan minyak. Sebagai contoh, consortium investasi yang didirikan oleh Dubai dan Qatar telah membeli 10% saham dari Air Bus Company, perusahaan pembuat pesawat terbang yang berbasis di Eropa. Contoh lain, Delta Two Investment yang dibackup oleh pemerintah Qatar terus meningkatkan porsi kepemilikan di Sainsbury, sebuah jaringan supermarket yang terkemuka di Inggris, yang merupakan icon the UK.

Ketersediaan SDM yang memadai untuk menangani pekerjaan besar ini menjadi sangat krusial. Karena itu penting disiapkan bagaimana mekasimenya agar pemerintah daerah bisa memiliki para profesional bidang keuangan. Jika hanya memberlakukan mereka seperti PNS biasa dengan gaji yang tidak lebih dari Rp.1,5 juta, maka dijamin tidak akan ada yang mau bekerja di Pemda, karena seorang akuntan misalnya, bisa mendapatkan gaji 5-10 kali lipat dari itu , jika dia bekerja di lembaga-lembaga keuangan lain, misalnya perusahan investasi.

Selanjutnya untuk daerah kaya, di samping melakukan investasi keuangan, ada baiknya mulai memikirkan invstasi SDM. Sebenarnya ini bisa dikatakan terlambat jika dibanding negara lain. Tetapi lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Jika sudah memiliki SDM dengan kualitas tinggi, mereka akan bisa berfikir kreatif mengembangangkan potensi yang ada. Kebijakan inilah yang ditempuh oleh Malaysia 37 tahun yang lalu. Saat mereka masih jauh tertinggal dari Indonesia.

Saat itu pemerintah Malaysia berfikir, jika rakyat diisi kepalanya, maka nanti dia bisa memikirkan sendiri bagaimana mengisi perutnya. Karena itu yang dibangun adalah pendidikan. Maka dimulailah gelombang pengiriman besar-besaran pelajar malaysia ke berbagai negara seperti Inggris, USA, Australia, Jepang, termasuk Indonesia dan ITB menerima banyak sekali mahasiswa malaysia di tahun 1970-an. Selesai dari ITB, mereka juga langsung dikirim ke negara lain untuk melanjutkan Master dan Doktor.

Sampai saat ini malaysia terus mengirim sekitar 10.000 pelajar setiap tahunnya ke berbagai negara termasuk ke Mesir bagi para lulusan pesantren. Dan yang dikirim saat ini bukan lagi untuk Master atau Doktor saja, tapi untuk tingkat sarjana (S1). Bisa dibayangkan lompatan kualitas SDM yang akan dimiliki mereka satu dekade mendatang.

Sementara Indonesia di awal repelita 1 tahun 1969 menganggap rakyat harus cukup makan dulu, baru mereka bisa berfikir tentang pendidikannya. Logika pemerintah kita waktu itu, terbalik dari Malaysia. Maka yang dicanangkan adalah swasembada beras. Kenyataannnya setelah swasembada beras berhasil, rakyat kenyang perutnya, malah jadi malas berfikir dan banyak tidurnya. Tiga dekade kemudian, Indonesia dan Malaysia sama-sama menuai hasil, dimana Indonesia dilanda krisis ekonomi hebat (1998), swasebada beras tidak ada lagi dan pendidikan tidak kunjung maju. Sementara Malaysia sbisa dengan cepat mengatasi krisisnya dan memiliki SDM dengan kualifikasi internasioanl.

Sebetulnya Riau sudah memulai program pengiriman pelajar ini sejak tahun 2002, dimana siapa saja yang mau melanjutkan S2 diberi beasiswa penuh. Tapi mungkin program ini bisa ditingkatkan lagi, mungkin tidak hanya di Indonesia. Jika perlu jalin kerja sama dengan institusi pendidikan terkemuka di dunia, seperti yang dilakukan oleh Dubai Development and Investment Authority sekarang, dimana mereka mengembangkan program Global Internership program dengan menjalin kerja sama dengan Harvard University, Coloumbia University, MIT dan Jhons Hopkins University. Mereka mendanai pelajar-pelajar berprestasi untuk menimba ilmu di sana, setelah kembali akan diikutsertakan dalam pengembangan proyek-proyek di Dubai, dan mereka akan memiliki akses komunikasi langsung dengan para pejabat tinggi sehingga mereka bisa memberikan masukan langsung.(
http://www.ameinfo.com/62808.html ).

Tuesday, 10 July 2007

Kenapa Negeriku Malah Dijadikan Syurga bagi Expatriate?

Tiga setengah abad berada di bawah penjajahan Belanda yang sangat tidak beradab telah membuat bangsa Indonesia tumbuh menjadi bangsa yang “rendah diri”. Meskipun sudah lebih dari 60 tahun merdeka, tetapi sindrom “mental bangsa terjajah” ini tetap belum hilang. Masih saja merasa diri belum sejajar dengan bangsa lain.

Satu contoh sederhana keminderan ini terlihat dari diskriminasi tingkat gaji yang sangat tinggi antara expatriate dan anak negeri sendiri. Para expatriate di Indonesia digaji 10 kali lipat dari orang Indonesia meskipun dengan tingkat pendidikan, kemampuan, tanggung jawab dan kinerja yang sama.

Seorang foreign engineer di Jakarta misalnya, menurut standar Bappenas, mendapatkan gaji sekitar US $5.000,00 per tahun. Sebaliknya orang Indonesia, dengan kualifikasi sama hanya menerima sebesar $500,00 saja. Tidak jarang dalam suatu proyek, meskipun dengan kualifikasi pendidikan lebih tinggi semisal MSc atau PHd, orang Indonesia digaji tetap lebih rendah dari expatriate yang cuma BSc (Rahardjo,2006).

Di samping gaji tinggi, biasanya expatrite juga mendapat berbagai fasilitas berlimpah seperti berkantor di kawasan segitiga mas (Sudirman, Thamrin dan Kuningan), tempat tinggal di apartemen mewah, keanggotan di club-club olah raga dan hiburan elite dan lain-lain. Intinya mereka sangat dimanjakan, sehingga tidak salah kalau dikatakan Indonesia adalah syurga bagi para expatriate.

Sebenarnya tidak masalah jika expatriate digaji sedemikian tinggi jika memang memiliki kemampuan unik yang tidak dimiliki oleh orang Indonesia dan betul-betul dibutuhkan. Tetapi jika kemampuan dan kinerja sama, lalu digaji lebih tinggi hanya karena statusnya bule, sungguh tidak logis menurut cara fakir orang yang berjiwa “merdeka”.

Jika pemerintah atau perusahaan harus membayar mahal hanya untuk status ke-bule-an saja, bukankah ini standar yang sangat stupid. Ketika jasa seseorang dihargai cuma 1/10 dari koleganya, hanya karena dia orang INDONESIA, berarti sungguh malang menjadi orang Indonesia.

Mirisnya lagi, yang mengeluarkan standar gaji yang sangat diskriminatif ini adalah Bappenas-Pemerintah Indonesia sendiri. Berarti pemerintah Indonsia melecehkan rakyatnya sendiri, menganggap bodoh bangsanya sendiri. Ini sungguh bertolak belakang dari peran yang seharusnya dimainkan oleh pemerintah.

Bukankah pemerintah suatu negara seharusnya menyokong rakyatnya, mendorong mereka supaya bisa maju, jika belum mampu difasilitasi supaya mencapai kualifikasi sama dengan expatriate. Singkatnya memberi kesempatan seluas-luasnya kepada anak bangsa untuk bisa berkembang dan mengekspolasi potensinya.


Kenyataan di lapangan menunjukkan tidak selalu yang bernama bule lebih pintar dari orang Indonesia. Banyak diantara mereka memiliki kemampuan biasa-biasa saja. Malah mungkin di negaranya berada pada lapis ke-3 atau 4, tapi di Indonesia mereka disanjung sedemikian rupa, mendapatkan posisi yang sangat bagus dan hidup mewah.

Keadaan ini tidak hanya berlaku di dunia bisnis, tetapi juga pada proyek-proyek pemerintah. Suatu kali tim peneliti dari UGM mendapat tugas membuat perencanaan daerah wisata pulau Jemur, di Kabupaten Rokan Hulu Riau. Sebagai arsitek dan perencana local, tim ini hanya mendapat dana sebesar 500 juta rupiah untuk jangka waktu 6 (enam) bulan. Sementara ada satu kabupaten lain yang lebih percaya pada konsultan dari Singapura harus mengeluarkan anggaran sebesar 3 milyar rupiah.

Saat hasil penelitian dan perencanaan sama sama dipresentasikan, ternyata perencanaan yang dibuat tim peneliti UGM tidak kalah bagus dari konsultan Singapura yang dibayar enam kali lipat lebih tinggi. Malahan perencaanan UGM terlihat lebih menyentuh apa yang dibutuhkan masyarakat karena mereka memadukan dengan metode Partisipatory Planning sehinga mereka tahu betul apa keinginan masyarakat.

Sebenarnya kita sendiri yang menempatkan para expatriate pada posisi yang sangat tinggi, menyanjung mereka sedemikian rupa, begitu percaya dan yakin mereka lebih baik, dan lebih berkualitas. Sebaliknya tidak memberi perlakuan sama kepada bangsa sendiri. Secara umum di seluruh dunia, expatriate memang digaji lebih tinggi dari pekerja lokal, namun perbedaannya tidak separah di Indonesia. Di Silicon Valley misalnya, gaji seorang software engineer (expatriate) dua kali pekerja lokal, termasuk jika expatriate-nya orang Indonesia (Patriawan, 2006).

Pemerintah Indonesia sepertinya tidak yakin dengan kemampuan sendiri. Inilah warisan mental Inlander (sindrom minder, rasa rendah diri, dan inferior) dari Belanda (Yulianto, 2007). Padahal fakta membuktikan banyak anak-anak Indonesia yang brilliant malah dimanfaatkan oleh orang luar negeri. Bukankah banyak jebolan ITB yang menjadi enginer-nya perusahan-perusahan minyak dunia di Houston misalnya, yang dikenal sebagai kota minyak dunia. Itu membuktikan kalau kualifikasi anak Indonesia, sama sekali tidak kalah dengan yang bernama bule.

Mereka adalah aset bangsa yang sangat berharga, dimana potensi mereka seharusnya dimaksimalkan untuk membangun bangsa. Yang terjadi malah mereka “disia-siakan”, dan dimanfaatkan negara lain. Bukankah lebih baik memanggil mereka pulang dan memberi penghargaan yang sama sebagaimana layaknya expatriate, ketimbang menggaji orang asing. Ibarat memberikan sumbangan, lebih baik kepada saudara sendiri dahulu baru kepada yang lebih jauh.

Disamping perlunya memberikan kesempatan yang sama kepada putra-putri dalan negeri sendiri, seharusnya pemerintah sangat berhati-hati dalam pemakaian expatriate , terutama untuk bidang perencanaan. Persoalannya bukan hanya sekedar pembayaran yang jauh lebih tinggi, tetapi menyangkut aspek lain yang lebih luas. Perlu digarisbawahi, pada proyek-proyek pemerintah, masuknya para expatriate ke Indonesia bukan karena sebuah rekruitment terbuka. Mereka adalah "AGEN-AGEN" yang dipekerjakan oleh pemerintah dari negara mereka, lalu ditempatkan pada lembaga lembaga strategis di Indonesia, khususnya dalam bidang-bidang perencanaan.

Sebagaimana diketahui, fondasi dari sebuah pembangunan baik fisik maupun mental adalah pada aspek perencanaan. Ketika para expatriate berada pada posisi perencanaan, maka dengn mudah mereka menyuntikkan virus virus kapitalis didalamnya. Mereka memang sengaja dihadirkan melalui proyek- proyek besar yang didanai oleh negara-negara asing. Ini adalah dampak negatif bagi bangsa Indonesia yang perlu diwaspadai oleh pemerintah.

Karena itu, perlu adanya perubahan paradigma yang menganggap bangsa asing (bangsa berkulit putih) lebih baik dari orang Indonesia. Pemerintah juga sebaiknya segera melakukan pemetaan SDM yang dimiliki Indonesia, baik menyangkut kuantitas maupun kualitas. Dengan adanya statistik lengkap dan peta yang jelas tentang penyebaran SDM Indonesia di berbagai disiplin ilmu, maka akan didapatkan gambaran jelas tentang kekuatan SDM Indonesia.

Dengan kedua hal ini, diharapkan Bappenas-pemerintah- dapat merevisi standarnya yang tidak rasional tersebut. dan menggantinya dengan standar yang lebih mencerminkan jiwa merdeka sebuah bangsa. Lebih jauh, pemerintah bisa mendapatkan keyakinan bahwa sebenarnya tersedia cukup SDM dengan jumlah dan kualifikasi yang memadai, sehingga tidak selalu harus bergantung pada expatriate. Pada akhirnya diharapkan ibu pertiwi dapat menjadi syurga bagi anak negeri sendiri.

Wednesday, 27 June 2007

100 Jaguar untuk 500 Beasiswa




Senin,18 Juni 2007 lalu, saya sebagai peserta Business Management English (BME) class, sebuah program Pre-Sessional English yang khusus dirancang untuk pelajar yang akan masuk ke Business School di University of Birmingham berkesempatan mengadakan kunjungan ke pabrik mobil mewah Jaguar yang terletak di Castile Bromwich, sebuah areal perindustrian di Birmingham, England.

Ini adalah bagian dari kegiatan kursus untuk melihat langsung aplikasi dari topik-topik bahasan yang dipelajari di kelas. Melihat bagaimana konsep-konsep proses produksi modern diaplikasikan seperti Total Quality Management (TQM), Just in Time (JIT) dan lain-lain yang diperkenalkan pertama kali oleh Jepang di awal tahun 1980-an. Kemudian system ini diadopsi oleh hampir seluruh perusahan manufacturing besar di seluruh dunia termasuk di Amerika dan Eropa. Karena system ini berhasil memangkas biaya produksi sampai 30%.

Bagi penulis sendiri, ini adalah kunjungan yang pertama ke sebuah pabrik mobil, apalagi mobil mewah sekelas Jagauar. Jadi kunjungan ini terasa sangat istimwa. Rombongan terdiri dari 30 orang.

Sesampai di pabrik Jaguar dan memasuki lobi, peserta langsung berdecak kagum karena sudah disambut dengan peragaan dua buah Jaguar seri terbaru. Peserta juga diperkenankan untuk berfoto dan mencoba menaiki kedua mobil mewah tersebut.

Semua peserta tidak melewatkan kesempatan itu, langsung bergaya didepan kedua mobil , ada juga yang mencoba duduk di dalamnya. Salah seorang pelajar dari Arab Saudi yang mungkin anak raja minyak, sudah langsung mencoba – coba dan meneliti salah satu mobil yang bergaya sporty, mungkin dia sudah berfikir untuk membelinya.

Semua terlihat antusias berfoto, mungkin fotonya akan dikirim untuk keluarga, atau untuk diperlihatkan kepada para kolega setelah pulang ke negara masing-masing. Sebagai bukti kalau waktu bersekolah di UK, pernah berkunjung ke pabrik Jaguar.

Puas berpose sekitar 10 menit, peserta disuguhkan video bagaimana mobil Jaguar diproduksi dari awal perancangan sampai keluar menjadi menjadi mobil dan siap dikendarai. Dari menyaksikan video ini saja, semua peserta sudah terkagum-kagum. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat langsung ke pabrik.

Begitu memasuki pabrik, penulis terkejut karena apa yang disaksikan ternyata jauh dari bayangan. Rasanya bukan masuk ke pabrik mobil saja, keadaannya begitu bersih, rapi, layoutnya begitu efisien, ruangannya tidak terlalu besar. Tidak terlihat lalu lalang pekerja, hanya ada sekali-sekali mobil khusus pembawa material melintas.

Selain itu tidak ada kebisingan,juga tidak ada tumpukan material yang banyak, hanya terlihat lempengan-lempengan alumunium dalam berbagai ukuran dan bentuk tapi tidak terlalu banyak. Rupanya mobil ini dibuat dengan bahan yang sama dengan pembuat pesawat.

Semua proses produksi dilakukan dengan system robotic. Sentuhan tangan manusia hanya untuk keperluan pengecekan. Pengecekan kualitas juga dilakukan dengan komputer yang dilengkapi 6 kamera. Ada 156 titik yang harus diteliti satu per satu. Petugas hanya melihat dari layar monitor dan dan memberi tanda tik pada formulir jika satu titik telah selesai diperiksa. Sehingga begitu mobil selesai di bagian akhir proses produksi, mobil sudah dalam keadaan Zero Defect (tanpa cacat). Hanya diperlukan waktu 38 jam untuk memproduksi sebuah Jaguar dari awal sampai bisa meluncur di jalanan.

Tidak adanya tumpukan material karena penerapan konsep Just in Time (JIT), dimana material di-supply jika sudah diperlukan saja. Di setiap tahap proses produksi terdapat rak material dan petugas tinggal memencet tombol yang terdapat di setiap kotak material ,kemudian bagian logistik akan segera datang mengisi kotak tersebut.

Satu hal yang menarik dari produksi Jaguar adalah setiap mobil yang dibuat memiliki spesifikasi yang berbeda dari yang lain, bahkan pelanggan bisa ikut dalam proses perancangan mobil seprti apa yang diinginkannya. Setiap mobil adalah unik. Untuk setiap mobil yang dibuat ada sebuah kartu kontrol yang ditempelkan di bagian depan seukuran 60 x 40 cm. Kartu ini berisi spesifikasi khusus yang diminta pelanggan termasuk negara tujuan, akan dikirim kemana mobil tersebut dan kapan. Penulis melihat beberapa mobil yang sedang dalam pengerjaan, tertulis negara tujuan German, Switzerland, swedia, Saudi Arabia, dan United States.

Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ada sirine dan sebagian besar listrik padam. Kami terkejut menyangka da apa, apalagi semua pekerja serentak meninggalkan pekerjaan mereka. Kami mengira terjadi sesuatu, rupanya itu tanda istirahat (coffee break sekitar 10 menit) dan listrik memang dimatikan kalau istirahat untuk penghematan.

Untuk urusan listrik ini, berbeda sekali dengan Indonesia yang tergolong boros memakai listrik. Lihat saja susah payahnya pemerintah mengkampanyekan hemat listrik lewat iklan layanan masyarakat di televise. Himbauan inipun baru mulai gencar setelah sempat terjadi krisis listrik beberapa waktu lalu, sehingga beberapa daerah terpaksa mengalami pemadaman bergilir.

Ketika ada yang bertanya berapa harga sebuah Jaguar yang sedang dikerjakan itu, pemandu yang sudah bekerja di sana selama 50 tahun itu tidak menjawab secara langsung, dengan sedikit tersenyum mengatakan kalau mobil itu dirancang khusus untuk orang yang punya uang berlebihan, seperti bintang sepakbola atau artis terkenal.

Untuk tipe XK misalnya harganya di atas £60,000.00 atau seekitar Rp. 1,08 milliar. jumlah yang cukup untuk membayar tuition fee (uang kuliah) 5 orang untuk sekolah master di UK ini. Setelah mendengar jawaban pemandu tersebut, kosentrasi penulis tidak lagi tertuju pada proses produksi Jaguar yang amazing tersebut, tapi sudah melayang ke Indonesia. Terbayang banyaknya mobil-mobil mewah bersiliweran di jalanan Jakarta, termasuk Jaguar.

Tidak hanya itu, orang kaya Jakarta seringkali memiliki sederetan mobil mewah digarasinya. Mungkin ada yang punya 3, 5 , 7 bahkan mungkin ada yang lebih dari 10, dengan anggota keluarga yang kadang cuma dua, tiga orang.

Dengan harga semahal itu, berapa banyak pengeluaran orang Indonesia untuk mobil mewah ini. Sementara di sisi lain, masih begitu banyak rakyat miskin dan pendidikan masih barang mahal.

Tiba-tiba terlintas di pikiran penulis, mencontoh Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) yang digagas oleh mantan Menko Kesra Azwar Anas. Idenya adalah mengumpulkan uang Rp.1000,00 (seribu) dari setiap orang Minang yang ada di perantauan, sebagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Dana yang terkumpul ternyata cukup besar sehingga Gebu Minang ini bisa mendirikan 40 BPR dalam kurun waktu 10 tahun (1991-2001) yang berjasa memajukan perekonomian rakyak miskin, termasuk di saat krisis ekonomi tahun 1997, dan mungkin sudah bertambah banyak sekarang ini. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/10/opini/249151.htm).

Saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain dalam persoalan SDM. Alangkah bijaknya jika ada semacam gerakan sosial dari para orang kaya Indonesia yang memiliki “uang berlebihan” itu, dengan menyumbangkan salah satu saja dari deretan mobil mewah mereka.

Dari sumbangan mobil-mobil mewah itu bisa dibentuk Dana Abadi untuk beasiswa misalnya, sehingga bisa mengirim pelajar-pelajar Indonesia untuk bersekolah ke berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu. Seperti apa yang dilakukan oleh Jepang setelah mereka kalah pada PD II di tahun 1945 sehingga mereka cepat bangkit, bahkan termasuk di barisan terdepan dalam hal ilmu dan teknologi. Demikian juga Malaysia di awal tahun 1970-an, sehingga saat ini mereka telah memiliki SDM yang memadai untuk bersaing di tengah kompetisi global dan lebih maju dari Indonesia.

Jika ada 100 orang kaya Indonesia saja yang mau berpartisipasi, merelakan satu Jaguar-nya atau yang sekelas dengan itu tentu akan terkumpul jumlah yang sangat besar. Sebagai hitung-hitungan sederhana 100 x Rp.1,08 M = 108 Milyar. Suatu jumlah yang cukup untuk membiayai setidaknya sekitar 500 (lima ratus) orang untuk sekolah master di luar negeri. Penulis mengambil angka 100 bukannya tanpa alasan, kalau kita lihat daftar pengusaha papan atas Indonesia, paling tidak ada 150 nama ((http://www.tokohindonesia.com/pengusaha/alfabet.shtml), belum diperhitungkan berapa banyaknya pejabat tinggi negara.

Tentu saja dengan catatan uang ini harus dilakelola dengan sangat professional dan bersih. Bukanya untuk dikorupsi seperti lazimnya, dimana setiap ada institusi baru yang didirikan pasti tidak lama kemudian sudah terjangkit virus korupsi. Pengelolaan dana ini mungkin bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Ford Foundation puluhan tahun lalu, dimana sejumlah dana abadi diinvestasikan dan dikembangkan. Itulah sebabnya Ford Foundation dapat terus memberikan beasiswa secara berkelanjutan sampai sekarang.

Mengenai mekanisme penyaluran beasiswa, mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya, semisal IIEF (International Indonesian Education Foundation). Organisasi ini sudah dipercaya dan berpengalaman mengelola berbagai macam beasiswa dari berbagai Funding internasional, atau dengan organisasi lainnya.

Sebagai bahan motivasi, selain sebagai bentuk partisipasi membangun masyarakat, mungkin bisa dianggap sebagai jalan untuk membersihkan harta, barangkali saja pernah terambil hak orang lain. Bagi pejabat, barangkali dulu waktu membelinya terpakai uang negara, jadi bisa dianggap sebagai bentuk pengembalian hak rakyat. Selain itu untuk membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta yang sudah semakin mengkhawatirkan.

Jadi banyak cara bisa dilakukan untuk turut memajukan bangsa, asalkan ada kesadaran bersama. Tidak harus selalu dalam wujud yang besar, hal-hal kecilpun bisa dilakukan, akhirnya akumulasi dari yang kecil, akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Sunday, 17 June 2007

Birmingham Business School Jadi University of Beijing

Jika kita melihat ada perantau Cina di mana-mana, itu bukan barang aneh lagi. Bahkan China Town ada di setiap kota di seluruh dunia. Umumnya perantau Cina ini mendominasi sektor bisnis. Di Indonesia misalnya, pusat-pusat perdagangan didominasi oleh pedagang Cina, sebutlah Mangga Dua dan Glodok. Bahkan sekarang Pasar Tanah Abang yang dulunya adalah wilayah kekuasaan pedagang Minang (Padang), sekarang sudah digantikan oleh mereka.

Dominasi komunitas Cina ini ternyata tidak hanya terjadi di dunia bisnis saat ini, tetapi juga sudah merambah ke bidang pendidikan. Di ngeri Ratu Elizabeth, Inggris, pelajar Cina adalah kontingen pelajar asing terbesar saat ini. Sebagai contoh di University of Birmingham, khususnya Birmingham Business School (BBS), hampir 90 persen pelajarnya berasal dari Cina dan Taiwan.

Sebenarnya pelajar Cina ada di setiap school, akan tetapi Business School adalah pilihan favorite mereka. Saking besarnya jumlah mereka, sampai-sampai university of Birmingham merasa perlu menyediakan accommodation kid berbahasa mandarin. Sehingga sewaktu penulis pertama kali tiba di akomodasi, merasa terkejut mendapati petunjuk koneksi internet yang diberikan berbahasa mandarin.

Di BBS, bahasa Mandarin menjadi bahasa kedua setelah bahasa Inggris. Sehingga ada joke dari teman-teman Indonesia, jika sesama pelajar Cina sudah berkumpul dan mereka berbicara dengan bahasa “langit” mereka, kita sudah seakan-akan berada di University of Beijing saja, bukan di University of Birmingham.

Esensi dari artikel ini sebetulnya bukan soal bahasa Mandarin-nya itu, tetapi penulis mencoba melihat sisi lain dari besarnya jumlah pelajar Cina di BBS ini terhadap kaitannya dengan kondisi perekonomian Cina yang tumbuh fantastis sejak empat tahun belakangan ini.

Saat ini Cina adalah kekuatan eknomi dunia nomor empat di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007, diprediksi sebesar 10%, dan 9,5 % di tahun 2008 nanti. (IMF laporkan Prospek Ekonomi Asia,
(http://www.dwell.de/indonesia/), 12/04/07). Pertumbuhan ekonomi Cina yang menakjubkan ini, bisa terlihat dari tinginya aktivitas bisnis di sana, derasnya arus investasi yang masuk, membanjirnya produk-produk Cina di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu banyak faktor yang menentukan majunya aktivitas bisnis di Cina, salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia. Berbicara mengenai kualitas SDM, tentu ada kaitannya dengan ramainya pelajar Cina yang belajar ke Luar Negeri,

Biasanya jurusan yang menjadi favorite mereka adalah Finance and Investmnt, International Business, Marketing, Accounting and Finance. Jurusan-jurusan yang memang menjadi kunci dalam keberhasilan busines modern. Jadi wajar saja aktivitas bisnis di Cina mengalami kemajuan yang sangat mengesankan karena mereka punya SDM yang cukup dan ahli untuk mendatangkan banyak investasi ke negara mereka, ada tenaga handal untuk membangun network ke seluruh dunia, ada tenaga marketing yang melimpah untuk menciptakan strategi-strategi pemasaran yang tepat dan lain-lain.

Peningkatan kualitas SDM memang mendapat peratian yang serius dari pemerintah Cina. Simak saja pernyataan dari Wakil Presiden Cina, Hu Jintao, pada tahun 2001 dalam pertemuannya dengan pelajar Cina di Inggris, "Overseas students are valuable property of the motherland”.China will work harder to create favorable environment and conditions for them and encourage them to return home and give full play to their talents in the motherland”. (http://www.english.people.com.cn/).
Pemerintah Cina jelas sangat mengapresiasi para pelajar yang sedang bersekolah di luar negeri. Selain itu juga memberi kesempatan berkarir dan berkarya yang seluas-luasnya bagi mereka, sekembalinya ke tanah air.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi, yang bertaraf international juga sudah memasyarakat. Sehingga tidak heran, jika banyak mereka yang belajar ke luar negeri atas biaya sendiri meskipun berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah. Bagi mereka sekolah ke luar negeri tidak diangap barang mewah lagi, tapi kebutuhan.

Simaklah pernyataan seorang pelajar Cina Lin Disheng, 22 , "China is going through a rapid industrialisation process. It's becoming more and more open. Chinese young people like me want to make a contribution to this rapid process. That's why I want to study In the UK - to learn better western technologies and experience the western culture and do the best I can.".(http://news.bbc.co.uk/1/hi/education/4219026.stm).

Pernyataan pelajar tersebut menggambarkan spirit yang sangat tinggi dari seorang warga negara untuk turut menyumbang bagi kemajuan bangsanya.

Sementara Indonesia, keadaannya tentu berbeda. Di BBS sendiri pelajar Indonesia bisa di hitung dengan bilangan jari. Itupun datang ke sini setelah setengah mati mencari beasiswa ke sana kemari. Kalaupun dengan beasiswa ayah bunda, betul-betul berasal dari keluarga elit atau anak pejabat sekelas menteri atau dirjen sebuah departemen.

Bagi keluarga ekonomi kelas menengah, jangan mimpi mau sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri. Banyak kendala yang dihadapi. Pertama, paradigma orang tua Indonesia yang menganggap kuliah ke luar ngeri adlah barang mewah, padahal kalau dihitung-hitung, sebenarnya mereka mampu untuk itu.

Kedua, pandangan kalau S2, S3 itu adalah monopoli dosen. Kalau hanya kantoran biasa atau wiraswasta, sepertinya tidak perlu-perlu amat sekolah S2, S3. Di daerah penulis sendiri misalnya, masih berlaku pandangan tradisional; ketimbang membayar uang sekolah ratusan juta rupiah, lebih baik uang itu dijadikan modal berdagang, lebih jelas dan cepat hasilnya.

Itulah hal-hal negatif yang masih ada di masyarakat Indonesia, sehingga generasi mudanya tidak terlalu termotivasi untuk sekolah ke luar negeri. Sebenarnya sekolah di dalam negeripun tetap ada yang bagus, hanya saja kalau bersekolah di institusi yang berkelas internasional, yang diakui dunia, tentu akan memberi efek psikologis lain. Memberi rasa percaya diri untuk membangun network ke seluruh dunia.

Keadaannya diperparah lagi dengan tidak adanya dukungan dari pemerintah. Meskipun sudah sekolah di luar ngeri, juga tidak ada jaminan akan memperoleh pekerjaan yang layak di Indonesia. Karena itu lebih banyak pelajar Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri setelah menamatkan pendidikannya. Akibatnya Indonesia kehilangan asset yang berharga.

Jadi, jelasl sekali kombinasi antara dukungan pemerintah yang kuat dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat berperan penting dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia di suatu Negara. Usaha dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas dirinya yang dibarengi oleh pemberian kesempatan berkarya yang luas akan memberi percepatan kemajuan yang luar biasa bagi Negara seperti yang terjadi di Cina.

Vima Tista Putriana, Birmingham 17 June 2007

Friday, 15 June 2007

Lost Student

Senin tanggal 24 April 2007 adalah hari pertama aku memulai Pre-Sessional English Course di English for International Students Unit, University of Birmingham (EISU). Sebenarnya, ada waktu Sabtu dan Minggu untuk melakukan survey ke universitas, mencari dimana lokasi aku akan kursus. Tapi Sabtu sudah terlanjur habis seharian berkeliling ke City Center, sementara minggu siang hanya istirahat, karena aku merasa sedikit demam. Sorenya berkumpul dengan dua orang teman Indonesia yang baru datang minggu siang itu, Pak Anto dan Pak Tri .

Sebenarnya aku sudah tanya kepada Elcid, dimana Language Center tempat aku bakal kursus. Tapi dia juga tidak tahu pasti tempatnya. Aku merasa heran juga, kok dia sampai tidak tahu. Bukannya dulu dia juga ikut Pre-Sessional, walaupun yang 6 minggu. Senin pagi jam 8 aku sudah siap mau berangkat ke kampus, tapi Elcid bilang kantor-kantor di sini baru buka setelah jam 9. Jadi kepagian kalau aku berangkat jam segitu.

Kami bertiga mengiyakan saja sarannya. Kami lupa kalau kami belum survey tempat, tapi karena Elcid janji mengantarkan, kami jadi tenang. Karena satu dan lain hal, akhirnya Elcid tidak jadi mengantar. Jadilah kami bertiga mencari-cari tempat kursus dengan susah payah, bertanya ke sana kemari, jelas sekali tampang orang kebingunannya.

Parahnya lagi, di Jakarta tidak diberi tahu, kemana kita harus melapor dulu. Waktu pembekalan keberangkan di Hotel Acasia Kramat, pihak IIEF hanya menekankan hal pertama yang harus dilakukan sesampai di UK adalah melapor ke International Student Office, terus buka Bank Account supaya transfer dana dapat segera di lakukan.

Begitu juga dengan pihak British Council, tidak pernah menginformasikan kalau yang harus ditemui pertama itu pihak pengelola kursus bukan admission office. Jadilah hari itu kami mengurus segala macamnya termasuk membuka bank account.

Kami kesulitan sekali menemukan dimana lokasi EISU. Walapun ada peta di tangan, dan sudah bertanya beberapa kali ke Receptinist di Ashton Building,gedung sentral tempat segala macam office di University of Birmingham, tetap saja kami masih bingung arahnya kemana. Apalagi Pak Anto dan Pak Tri tempat kursusnya tidak sama dengan aku. Mereka harus masuk General English, dan itu adanya di kampus Selly Oak, tambah bingung lagi deh....

Akhirnya kami berpisah. Jadilah aku mencari gedung Westmere tempat EISU, sendirian. Dengan susah payah, berhasil juga aku temukan. Sesampai di dalam, aku melapor ke sekretariat, mereka langsung bertanya apa aku tidak tahu kalau kursus dimulai hari ini jam 9.30 pagi, apa aku tidak di informasikan sejak dari Indonesia. Keterlamabatnku memang cukup lama, kulirik jam sudah pukul12 tepat. Petugas itu, seorang gadis india kecil mungil menyuruh aku menunggu.

Aku mencari tempat duduk di ruang tengah (Westmere memang mirip bangunan rumah ketimbang bangunan kantor. Karena dulunya memang rumah tinggal). Sudah ramai sekali student berkumpul sambil berbincang. Ada yang sambil duduk, ada yang berdiri. Ada juga yang di dalam ruangan kelas. Ada yang berbincang dengan pengajar.

Di salah satu ruang kelas, aku lihat beberapa orang sibuk sekali mempersiapkan beraneka makanan. Ada buah, cake, crips dan lain-lain. Aku duduk di kursi paling pojok sambil memperhatikan mereka satu persatu. Barangkali ada yang bisa aku ajak bicara, untuk sekedar bertanya apa saja yang sudah berlangsung dari pagi tadi, dan apa selanjutnya.

Sudah sepuluh menit lebih aku mengamati sekeliling, tapi semua orang sibuk bicara dengan temannya atau sibuk sendiri. Aku mulai merasa bingung, aku seperti bengong sendiri dan merasa "iri" dengan student lain yang sudah enjoy mengobrol satu sama lain.

Oh..... tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab keluar kelas dan duduk di kursi. Sepertinya dia orang Arab. Hatiku gembira, karena menyangka pasti dia akan langsung menyapa aku dengan sapaan khas muslim " Assalamualaikum", tapi lama aku tatap dia, dan berusaha tersenyum. Dia terlihat cuek saja, sapaan salam yang kuharap tidak keluar dari mulutnya ternyata.

Akhirnya aku beranikan duduk di dekatnya, dan menyapa dia. Ternyata benar dugaanku, dia student dari Saudi Arabia. Aku tanyakan apa yang sudah berlangsung tadi pagi. Dia jawab kalau ada placement test tadi. Mendengar jawabannya,...... tek....ada desir di dadaku. Tiba-tiba hatiku diselimuti rasa penuh sesal. Kenapa sampai datang terlambat. Kenapa aku seceroboh ini.....desisku dalam hati.Aku tiba-tiba merasa sedih sekali.

Kemudian semua orang masuk ke ruangan yang sudah terhidang makanan. Aku ragu untuk ikut masuk. Aku tidak tahu siapa saja yang boleh makan, lalu aku tanya ke salah seorang petugas, rupanya itu jamuan makan siang untuk menyambut para student baru. Jadilah aku ikutan makan seadanya. Salah seorang tutor, yang ternyata bernama Sofia, bertanya apa aku student baru juga, kenapa dia tidak melihat aku dari pagi. Aku jawab iya, dia bertanya alasan kenapa aku terlambat.

Setelah aku jelaskan, dia menginfomasikan kepada temannya yang berambut ikal dan pirang. Temannya bertanya siapa namaku, begitu aku sebutkan, dia langsung berseru " Oh you are the lost student?" Aku kaget dipanggil the Lost Student, kemudian dia mengatakan kalau mendapat telpon dari receptionist di Ashton Building bahwa ada student yang nyasar ke sana. Dia juga mengatakan kalau sudah mengirim petugas ke flat ku untuk menjemput pada jam 10 karena mengira barangkali aku ketiduran.

Mendengar itu, aku merasa semakin menyesal.......kenapa hal pertama yang kulakukan sesampai di sini bukan mencari tempat kursusku dulu. Acara makan siang selesai, aku diberi tahu kalau harus masuk ke kelas BME (Business Management English). Begitu aku membuka pintu, di dalam sudah ada 3 orang student dan tutor yang berusia separuh baya.

Begitu melihatku, tutor itu langsung berseru " You must be Vima..., the lost student". Tek...aku kembali terkaget, tutor ini juga memanggilku the lost student. Placement test dilanjutkan, dan aku hanya dapat mengikuti section reading, dan jadilah panggilanku di sana sbg " the lost student".

Friday, 8 June 2007

Pertemuan Tidak Terduga di Kereta

Dari airport kami naik kereta ke university station. Tidak disangka, di dalam kereta kami bertemu dengan orang British, perempuan 50-an tahun, yang wajahnya pernah aku lihat. Seorang teman yang sedang study di Belanda pernah mengirim fotonya waktu diwisuda di University of Birmingham. Orang yang bersama dia di dalam foto itu, ternyata orang yang aku temui di kereta malam itu.

Dia bicara dengan Kartini, karena kenal juga ternyata. Ketika Kartini memperkenalkan saya sebagai temannya yang baru datang dari Indonesia, saya bilang bahwa saya sudah pernah melihat wajahnya di foto. Dia sangat surprise dan senang sekali.

Jadilah dia sebagai orang British pertama yang me njadi kenalan di UK ini

Sarapan Pertama di UK

Sesampai di University Station, sebenarnya sudah mau langsung ke akomodasi kampus. Tapi senior yg lain (Mas Elcit) bilang kalau dia sudah masak ayam goreng untuk kami. Akhirnya, bermalam di tempat mas Doel saja (IFP fellow cohort IV yang menjemputku ke bandara).

Tapi sayangnya pagi-pagi sekali, sekitar jam 6 mas Doel sudah pergi ke Leeds, salah satu kota di UK dan fitri istrinya ke Manchester bareng Kartini (Fellow cohort IV). Manchester dan Leeds berjarak kira-kira 2 jam perjalanan dengan bus dari Birmingham.


Tepat jam 9, mas Elcid mengajak keluar. Aku pikir kita mau ke pasar untuk beli-beli keperluan dasar seperti piring, gelas, selimut, sepray dan lain-lain. Ternyata tidak. Aku diajak ke rumah kenalannya orang British, namanya Glennis.


Di sana ternyata ada beberapa tamu juga dari internasional student, rata-rata anak Cina dan Taiwan. Maka jadilah sarapan pertamaku di UK bareng orang British. Tapi aku hanya makan roti tawar dan minum orange juice krn muslim tidak bisa sembarang makan, ada aturan syariat yang harus diikuti.

Sekali lagi ada hal yg tak terduga, aku bertemu kembali dgn kenalan baruku, orang British yang aku kenal di kereta semalam di rumah Glennis ini. Diapun kaget sekali, aku sudah ada di pertemuan itu, padahal dia tahu aku baru datang semalam.

Aku pikir, ini awal yang cukup baik di sini.

Siangnya baru ke City Center untuk belanja



Pengalaman Pertama Merasakan Dinginnya UK

Pertama menginjakkan kaki di Birmingham Intrenational Airport, langsung terasa hawa dingin merambat , merasuk sampai ke tulang. Padahal katanya ini sudah masuk musim semi, malahan sudah mau habis, dan sebentar lagi summer.

Tapi kenapa hawanya begini dingin. Serasa tubuh mau membeku.Terlintas kekhawatiran di dalam hati " bagaimana aku akan bisa hidup di tempat sedingin ini, yg hawanya seakan mau membekukan tulang- tulangku"? Ya Allah....., apa aku tidak salah memilih UK sbg tempat studyku?

Begitulah perasaan saat pertama kali menginjakkan kaki di airport