Senin,18 Juni 2007 lalu, saya sebagai peserta Business Management English (BME) class, sebuah program Pre-Sessional English yang khusus dirancang untuk pelajar yang akan masuk ke Business School di University of Birmingham berkesempatan mengadakan kunjungan ke pabrik mobil mewah Jaguar yang terletak di Castile Bromwich, sebuah areal perindustrian di Birmingham, England.
Ini adalah bagian dari kegiatan kursus untuk melihat langsung aplikasi dari topik-topik bahasan yang dipelajari di kelas. Melihat bagaimana konsep-konsep proses produksi modern diaplikasikan seperti Total Quality Management (TQM), Just in Time (JIT) dan lain-lain yang diperkenalkan pertama kali oleh Jepang di awal tahun 1980-an. Kemudian system ini diadopsi oleh hampir seluruh perusahan manufacturing besar di seluruh dunia termasuk di Amerika dan Eropa. Karena system ini berhasil memangkas biaya produksi sampai 30%.
Bagi penulis sendiri, ini adalah kunjungan yang pertama ke sebuah pabrik mobil, apalagi mobil mewah sekelas Jagauar. Jadi kunjungan ini terasa sangat istimwa. Rombongan terdiri dari 30 orang.
Sesampai di pabrik Jaguar dan memasuki lobi, peserta langsung berdecak kagum karena sudah disambut dengan peragaan dua buah Jaguar seri terbaru. Peserta juga diperkenankan untuk berfoto dan mencoba menaiki kedua mobil mewah tersebut.
Semua peserta tidak melewatkan kesempatan itu, langsung bergaya didepan kedua mobil , ada juga yang mencoba duduk di dalamnya. Salah seorang pelajar dari Arab Saudi yang mungkin anak raja minyak, sudah langsung mencoba – coba dan meneliti salah satu mobil yang bergaya sporty, mungkin dia sudah berfikir untuk membelinya.
Semua terlihat antusias berfoto, mungkin fotonya akan dikirim untuk keluarga, atau untuk diperlihatkan kepada para kolega setelah pulang ke negara masing-masing. Sebagai bukti kalau waktu bersekolah di UK, pernah berkunjung ke pabrik Jaguar.
Puas berpose sekitar 10 menit, peserta disuguhkan video bagaimana mobil Jaguar diproduksi dari awal perancangan sampai keluar menjadi menjadi mobil dan siap dikendarai. Dari menyaksikan video ini saja, semua peserta sudah terkagum-kagum. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat langsung ke pabrik.
Begitu memasuki pabrik, penulis terkejut karena apa yang disaksikan ternyata jauh dari bayangan. Rasanya bukan masuk ke pabrik mobil saja, keadaannya begitu bersih, rapi, layoutnya begitu efisien, ruangannya tidak terlalu besar. Tidak terlihat lalu lalang pekerja, hanya ada sekali-sekali mobil khusus pembawa material melintas.
Selain itu tidak ada kebisingan,juga tidak ada tumpukan material yang banyak, hanya terlihat lempengan-lempengan alumunium dalam berbagai ukuran dan bentuk tapi tidak terlalu banyak. Rupanya mobil ini dibuat dengan bahan yang sama dengan pembuat pesawat.
Semua proses produksi dilakukan dengan system robotic. Sentuhan tangan manusia hanya untuk keperluan pengecekan. Pengecekan kualitas juga dilakukan dengan komputer yang dilengkapi 6 kamera. Ada 156 titik yang harus diteliti satu per satu. Petugas hanya melihat dari layar monitor dan dan memberi tanda tik pada formulir jika satu titik telah selesai diperiksa. Sehingga begitu mobil selesai di bagian akhir proses produksi, mobil sudah dalam keadaan Zero Defect (tanpa cacat). Hanya diperlukan waktu 38 jam untuk memproduksi sebuah Jaguar dari awal sampai bisa meluncur di jalanan.
Tidak adanya tumpukan material karena penerapan konsep Just in Time (JIT), dimana material di-supply jika sudah diperlukan saja. Di setiap tahap proses produksi terdapat rak material dan petugas tinggal memencet tombol yang terdapat di setiap kotak material ,kemudian bagian logistik akan segera datang mengisi kotak tersebut.
Satu hal yang menarik dari produksi Jaguar adalah setiap mobil yang dibuat memiliki spesifikasi yang berbeda dari yang lain, bahkan pelanggan bisa ikut dalam proses perancangan mobil seprti apa yang diinginkannya. Setiap mobil adalah unik. Untuk setiap mobil yang dibuat ada sebuah kartu kontrol yang ditempelkan di bagian depan seukuran 60 x 40 cm. Kartu ini berisi spesifikasi khusus yang diminta pelanggan termasuk negara tujuan, akan dikirim kemana mobil tersebut dan kapan. Penulis melihat beberapa mobil yang sedang dalam pengerjaan, tertulis negara tujuan German, Switzerland, swedia, Saudi Arabia, dan United States.
Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ada sirine dan sebagian besar listrik padam. Kami terkejut menyangka da apa, apalagi semua pekerja serentak meninggalkan pekerjaan mereka. Kami mengira terjadi sesuatu, rupanya itu tanda istirahat (coffee break sekitar 10 menit) dan listrik memang dimatikan kalau istirahat untuk penghematan.
Untuk urusan listrik ini, berbeda sekali dengan Indonesia yang tergolong boros memakai listrik. Lihat saja susah payahnya pemerintah mengkampanyekan hemat listrik lewat iklan layanan masyarakat di televise. Himbauan inipun baru mulai gencar setelah sempat terjadi krisis listrik beberapa waktu lalu, sehingga beberapa daerah terpaksa mengalami pemadaman bergilir.
Ketika ada yang bertanya berapa harga sebuah Jaguar yang sedang dikerjakan itu, pemandu yang sudah bekerja di sana selama 50 tahun itu tidak menjawab secara langsung, dengan sedikit tersenyum mengatakan kalau mobil itu dirancang khusus untuk orang yang punya uang berlebihan, seperti bintang sepakbola atau artis terkenal.
Untuk tipe XK misalnya harganya di atas £60,000.00 atau seekitar Rp. 1,08 milliar. jumlah yang cukup untuk membayar tuition fee (uang kuliah) 5 orang untuk sekolah master di UK ini. Setelah mendengar jawaban pemandu tersebut, kosentrasi penulis tidak lagi tertuju pada proses produksi Jaguar yang amazing tersebut, tapi sudah melayang ke Indonesia. Terbayang banyaknya mobil-mobil mewah bersiliweran di jalanan Jakarta, termasuk Jaguar.
Tidak hanya itu, orang kaya Jakarta seringkali memiliki sederetan mobil mewah digarasinya. Mungkin ada yang punya 3, 5 , 7 bahkan mungkin ada yang lebih dari 10, dengan anggota keluarga yang kadang cuma dua, tiga orang.
Dengan harga semahal itu, berapa banyak pengeluaran orang Indonesia untuk mobil mewah ini. Sementara di sisi lain, masih begitu banyak rakyat miskin dan pendidikan masih barang mahal.
Tiba-tiba terlintas di pikiran penulis, mencontoh Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) yang digagas oleh mantan Menko Kesra Azwar Anas. Idenya adalah mengumpulkan uang Rp.1000,00 (seribu) dari setiap orang Minang yang ada di perantauan, sebagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Dana yang terkumpul ternyata cukup besar sehingga Gebu Minang ini bisa mendirikan 40 BPR dalam kurun waktu 10 tahun (1991-2001) yang berjasa memajukan perekonomian rakyak miskin, termasuk di saat krisis ekonomi tahun 1997, dan mungkin sudah bertambah banyak sekarang ini. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/10/opini/249151.htm).
Saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain dalam persoalan SDM. Alangkah bijaknya jika ada semacam gerakan sosial dari para orang kaya Indonesia yang memiliki “uang berlebihan” itu, dengan menyumbangkan salah satu saja dari deretan mobil mewah mereka.
Dari sumbangan mobil-mobil mewah itu bisa dibentuk Dana Abadi untuk beasiswa misalnya, sehingga bisa mengirim pelajar-pelajar Indonesia untuk bersekolah ke berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu. Seperti apa yang dilakukan oleh Jepang setelah mereka kalah pada PD II di tahun 1945 sehingga mereka cepat bangkit, bahkan termasuk di barisan terdepan dalam hal ilmu dan teknologi. Demikian juga Malaysia di awal tahun 1970-an, sehingga saat ini mereka telah memiliki SDM yang memadai untuk bersaing di tengah kompetisi global dan lebih maju dari Indonesia.
Jika ada 100 orang kaya Indonesia saja yang mau berpartisipasi, merelakan satu Jaguar-nya atau yang sekelas dengan itu tentu akan terkumpul jumlah yang sangat besar. Sebagai hitung-hitungan sederhana 100 x Rp.1,08 M = 108 Milyar. Suatu jumlah yang cukup untuk membiayai setidaknya sekitar 500 (lima ratus) orang untuk sekolah master di luar negeri. Penulis mengambil angka 100 bukannya tanpa alasan, kalau kita lihat daftar pengusaha papan atas Indonesia, paling tidak ada 150 nama ((http://www.tokohindonesia.com/pengusaha/alfabet.shtml), belum diperhitungkan berapa banyaknya pejabat tinggi negara.
Tentu saja dengan catatan uang ini harus dilakelola dengan sangat professional dan bersih. Bukanya untuk dikorupsi seperti lazimnya, dimana setiap ada institusi baru yang didirikan pasti tidak lama kemudian sudah terjangkit virus korupsi. Pengelolaan dana ini mungkin bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Ford Foundation puluhan tahun lalu, dimana sejumlah dana abadi diinvestasikan dan dikembangkan. Itulah sebabnya Ford Foundation dapat terus memberikan beasiswa secara berkelanjutan sampai sekarang.
Mengenai mekanisme penyaluran beasiswa, mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya, semisal IIEF (International Indonesian Education Foundation). Organisasi ini sudah dipercaya dan berpengalaman mengelola berbagai macam beasiswa dari berbagai Funding internasional, atau dengan organisasi lainnya.
Sebagai bahan motivasi, selain sebagai bentuk partisipasi membangun masyarakat, mungkin bisa dianggap sebagai jalan untuk membersihkan harta, barangkali saja pernah terambil hak orang lain. Bagi pejabat, barangkali dulu waktu membelinya terpakai uang negara, jadi bisa dianggap sebagai bentuk pengembalian hak rakyat. Selain itu untuk membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta yang sudah semakin mengkhawatirkan.
Jadi banyak cara bisa dilakukan untuk turut memajukan bangsa, asalkan ada kesadaran bersama. Tidak harus selalu dalam wujud yang besar, hal-hal kecilpun bisa dilakukan, akhirnya akumulasi dari yang kecil, akan menghasilkan sesuatu yang besar.
Ini adalah bagian dari kegiatan kursus untuk melihat langsung aplikasi dari topik-topik bahasan yang dipelajari di kelas. Melihat bagaimana konsep-konsep proses produksi modern diaplikasikan seperti Total Quality Management (TQM), Just in Time (JIT) dan lain-lain yang diperkenalkan pertama kali oleh Jepang di awal tahun 1980-an. Kemudian system ini diadopsi oleh hampir seluruh perusahan manufacturing besar di seluruh dunia termasuk di Amerika dan Eropa. Karena system ini berhasil memangkas biaya produksi sampai 30%.
Bagi penulis sendiri, ini adalah kunjungan yang pertama ke sebuah pabrik mobil, apalagi mobil mewah sekelas Jagauar. Jadi kunjungan ini terasa sangat istimwa. Rombongan terdiri dari 30 orang.
Sesampai di pabrik Jaguar dan memasuki lobi, peserta langsung berdecak kagum karena sudah disambut dengan peragaan dua buah Jaguar seri terbaru. Peserta juga diperkenankan untuk berfoto dan mencoba menaiki kedua mobil mewah tersebut.
Semua peserta tidak melewatkan kesempatan itu, langsung bergaya didepan kedua mobil , ada juga yang mencoba duduk di dalamnya. Salah seorang pelajar dari Arab Saudi yang mungkin anak raja minyak, sudah langsung mencoba – coba dan meneliti salah satu mobil yang bergaya sporty, mungkin dia sudah berfikir untuk membelinya.
Semua terlihat antusias berfoto, mungkin fotonya akan dikirim untuk keluarga, atau untuk diperlihatkan kepada para kolega setelah pulang ke negara masing-masing. Sebagai bukti kalau waktu bersekolah di UK, pernah berkunjung ke pabrik Jaguar.
Puas berpose sekitar 10 menit, peserta disuguhkan video bagaimana mobil Jaguar diproduksi dari awal perancangan sampai keluar menjadi menjadi mobil dan siap dikendarai. Dari menyaksikan video ini saja, semua peserta sudah terkagum-kagum. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat langsung ke pabrik.
Begitu memasuki pabrik, penulis terkejut karena apa yang disaksikan ternyata jauh dari bayangan. Rasanya bukan masuk ke pabrik mobil saja, keadaannya begitu bersih, rapi, layoutnya begitu efisien, ruangannya tidak terlalu besar. Tidak terlihat lalu lalang pekerja, hanya ada sekali-sekali mobil khusus pembawa material melintas.
Selain itu tidak ada kebisingan,juga tidak ada tumpukan material yang banyak, hanya terlihat lempengan-lempengan alumunium dalam berbagai ukuran dan bentuk tapi tidak terlalu banyak. Rupanya mobil ini dibuat dengan bahan yang sama dengan pembuat pesawat.
Semua proses produksi dilakukan dengan system robotic. Sentuhan tangan manusia hanya untuk keperluan pengecekan. Pengecekan kualitas juga dilakukan dengan komputer yang dilengkapi 6 kamera. Ada 156 titik yang harus diteliti satu per satu. Petugas hanya melihat dari layar monitor dan dan memberi tanda tik pada formulir jika satu titik telah selesai diperiksa. Sehingga begitu mobil selesai di bagian akhir proses produksi, mobil sudah dalam keadaan Zero Defect (tanpa cacat). Hanya diperlukan waktu 38 jam untuk memproduksi sebuah Jaguar dari awal sampai bisa meluncur di jalanan.
Tidak adanya tumpukan material karena penerapan konsep Just in Time (JIT), dimana material di-supply jika sudah diperlukan saja. Di setiap tahap proses produksi terdapat rak material dan petugas tinggal memencet tombol yang terdapat di setiap kotak material ,kemudian bagian logistik akan segera datang mengisi kotak tersebut.
Satu hal yang menarik dari produksi Jaguar adalah setiap mobil yang dibuat memiliki spesifikasi yang berbeda dari yang lain, bahkan pelanggan bisa ikut dalam proses perancangan mobil seprti apa yang diinginkannya. Setiap mobil adalah unik. Untuk setiap mobil yang dibuat ada sebuah kartu kontrol yang ditempelkan di bagian depan seukuran 60 x 40 cm. Kartu ini berisi spesifikasi khusus yang diminta pelanggan termasuk negara tujuan, akan dikirim kemana mobil tersebut dan kapan. Penulis melihat beberapa mobil yang sedang dalam pengerjaan, tertulis negara tujuan German, Switzerland, swedia, Saudi Arabia, dan United States.
Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ada sirine dan sebagian besar listrik padam. Kami terkejut menyangka da apa, apalagi semua pekerja serentak meninggalkan pekerjaan mereka. Kami mengira terjadi sesuatu, rupanya itu tanda istirahat (coffee break sekitar 10 menit) dan listrik memang dimatikan kalau istirahat untuk penghematan.
Untuk urusan listrik ini, berbeda sekali dengan Indonesia yang tergolong boros memakai listrik. Lihat saja susah payahnya pemerintah mengkampanyekan hemat listrik lewat iklan layanan masyarakat di televise. Himbauan inipun baru mulai gencar setelah sempat terjadi krisis listrik beberapa waktu lalu, sehingga beberapa daerah terpaksa mengalami pemadaman bergilir.
Ketika ada yang bertanya berapa harga sebuah Jaguar yang sedang dikerjakan itu, pemandu yang sudah bekerja di sana selama 50 tahun itu tidak menjawab secara langsung, dengan sedikit tersenyum mengatakan kalau mobil itu dirancang khusus untuk orang yang punya uang berlebihan, seperti bintang sepakbola atau artis terkenal.
Untuk tipe XK misalnya harganya di atas £60,000.00 atau seekitar Rp. 1,08 milliar. jumlah yang cukup untuk membayar tuition fee (uang kuliah) 5 orang untuk sekolah master di UK ini. Setelah mendengar jawaban pemandu tersebut, kosentrasi penulis tidak lagi tertuju pada proses produksi Jaguar yang amazing tersebut, tapi sudah melayang ke Indonesia. Terbayang banyaknya mobil-mobil mewah bersiliweran di jalanan Jakarta, termasuk Jaguar.
Tidak hanya itu, orang kaya Jakarta seringkali memiliki sederetan mobil mewah digarasinya. Mungkin ada yang punya 3, 5 , 7 bahkan mungkin ada yang lebih dari 10, dengan anggota keluarga yang kadang cuma dua, tiga orang.
Dengan harga semahal itu, berapa banyak pengeluaran orang Indonesia untuk mobil mewah ini. Sementara di sisi lain, masih begitu banyak rakyat miskin dan pendidikan masih barang mahal.
Tiba-tiba terlintas di pikiran penulis, mencontoh Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) yang digagas oleh mantan Menko Kesra Azwar Anas. Idenya adalah mengumpulkan uang Rp.1000,00 (seribu) dari setiap orang Minang yang ada di perantauan, sebagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Dana yang terkumpul ternyata cukup besar sehingga Gebu Minang ini bisa mendirikan 40 BPR dalam kurun waktu 10 tahun (1991-2001) yang berjasa memajukan perekonomian rakyak miskin, termasuk di saat krisis ekonomi tahun 1997, dan mungkin sudah bertambah banyak sekarang ini. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/10/opini/249151.htm).
Saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain dalam persoalan SDM. Alangkah bijaknya jika ada semacam gerakan sosial dari para orang kaya Indonesia yang memiliki “uang berlebihan” itu, dengan menyumbangkan salah satu saja dari deretan mobil mewah mereka.
Dari sumbangan mobil-mobil mewah itu bisa dibentuk Dana Abadi untuk beasiswa misalnya, sehingga bisa mengirim pelajar-pelajar Indonesia untuk bersekolah ke berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu. Seperti apa yang dilakukan oleh Jepang setelah mereka kalah pada PD II di tahun 1945 sehingga mereka cepat bangkit, bahkan termasuk di barisan terdepan dalam hal ilmu dan teknologi. Demikian juga Malaysia di awal tahun 1970-an, sehingga saat ini mereka telah memiliki SDM yang memadai untuk bersaing di tengah kompetisi global dan lebih maju dari Indonesia.
Jika ada 100 orang kaya Indonesia saja yang mau berpartisipasi, merelakan satu Jaguar-nya atau yang sekelas dengan itu tentu akan terkumpul jumlah yang sangat besar. Sebagai hitung-hitungan sederhana 100 x Rp.1,08 M = 108 Milyar. Suatu jumlah yang cukup untuk membiayai setidaknya sekitar 500 (lima ratus) orang untuk sekolah master di luar negeri. Penulis mengambil angka 100 bukannya tanpa alasan, kalau kita lihat daftar pengusaha papan atas Indonesia, paling tidak ada 150 nama ((http://www.tokohindonesia.com/pengusaha/alfabet.shtml), belum diperhitungkan berapa banyaknya pejabat tinggi negara.
Tentu saja dengan catatan uang ini harus dilakelola dengan sangat professional dan bersih. Bukanya untuk dikorupsi seperti lazimnya, dimana setiap ada institusi baru yang didirikan pasti tidak lama kemudian sudah terjangkit virus korupsi. Pengelolaan dana ini mungkin bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Ford Foundation puluhan tahun lalu, dimana sejumlah dana abadi diinvestasikan dan dikembangkan. Itulah sebabnya Ford Foundation dapat terus memberikan beasiswa secara berkelanjutan sampai sekarang.
Mengenai mekanisme penyaluran beasiswa, mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya, semisal IIEF (International Indonesian Education Foundation). Organisasi ini sudah dipercaya dan berpengalaman mengelola berbagai macam beasiswa dari berbagai Funding internasional, atau dengan organisasi lainnya.
Sebagai bahan motivasi, selain sebagai bentuk partisipasi membangun masyarakat, mungkin bisa dianggap sebagai jalan untuk membersihkan harta, barangkali saja pernah terambil hak orang lain. Bagi pejabat, barangkali dulu waktu membelinya terpakai uang negara, jadi bisa dianggap sebagai bentuk pengembalian hak rakyat. Selain itu untuk membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta yang sudah semakin mengkhawatirkan.
Jadi banyak cara bisa dilakukan untuk turut memajukan bangsa, asalkan ada kesadaran bersama. Tidak harus selalu dalam wujud yang besar, hal-hal kecilpun bisa dilakukan, akhirnya akumulasi dari yang kecil, akan menghasilkan sesuatu yang besar.
