Wednesday, 27 June 2007

100 Jaguar untuk 500 Beasiswa




Senin,18 Juni 2007 lalu, saya sebagai peserta Business Management English (BME) class, sebuah program Pre-Sessional English yang khusus dirancang untuk pelajar yang akan masuk ke Business School di University of Birmingham berkesempatan mengadakan kunjungan ke pabrik mobil mewah Jaguar yang terletak di Castile Bromwich, sebuah areal perindustrian di Birmingham, England.

Ini adalah bagian dari kegiatan kursus untuk melihat langsung aplikasi dari topik-topik bahasan yang dipelajari di kelas. Melihat bagaimana konsep-konsep proses produksi modern diaplikasikan seperti Total Quality Management (TQM), Just in Time (JIT) dan lain-lain yang diperkenalkan pertama kali oleh Jepang di awal tahun 1980-an. Kemudian system ini diadopsi oleh hampir seluruh perusahan manufacturing besar di seluruh dunia termasuk di Amerika dan Eropa. Karena system ini berhasil memangkas biaya produksi sampai 30%.

Bagi penulis sendiri, ini adalah kunjungan yang pertama ke sebuah pabrik mobil, apalagi mobil mewah sekelas Jagauar. Jadi kunjungan ini terasa sangat istimwa. Rombongan terdiri dari 30 orang.

Sesampai di pabrik Jaguar dan memasuki lobi, peserta langsung berdecak kagum karena sudah disambut dengan peragaan dua buah Jaguar seri terbaru. Peserta juga diperkenankan untuk berfoto dan mencoba menaiki kedua mobil mewah tersebut.

Semua peserta tidak melewatkan kesempatan itu, langsung bergaya didepan kedua mobil , ada juga yang mencoba duduk di dalamnya. Salah seorang pelajar dari Arab Saudi yang mungkin anak raja minyak, sudah langsung mencoba – coba dan meneliti salah satu mobil yang bergaya sporty, mungkin dia sudah berfikir untuk membelinya.

Semua terlihat antusias berfoto, mungkin fotonya akan dikirim untuk keluarga, atau untuk diperlihatkan kepada para kolega setelah pulang ke negara masing-masing. Sebagai bukti kalau waktu bersekolah di UK, pernah berkunjung ke pabrik Jaguar.

Puas berpose sekitar 10 menit, peserta disuguhkan video bagaimana mobil Jaguar diproduksi dari awal perancangan sampai keluar menjadi menjadi mobil dan siap dikendarai. Dari menyaksikan video ini saja, semua peserta sudah terkagum-kagum. Setelah itu dilanjutkan dengan melihat langsung ke pabrik.

Begitu memasuki pabrik, penulis terkejut karena apa yang disaksikan ternyata jauh dari bayangan. Rasanya bukan masuk ke pabrik mobil saja, keadaannya begitu bersih, rapi, layoutnya begitu efisien, ruangannya tidak terlalu besar. Tidak terlihat lalu lalang pekerja, hanya ada sekali-sekali mobil khusus pembawa material melintas.

Selain itu tidak ada kebisingan,juga tidak ada tumpukan material yang banyak, hanya terlihat lempengan-lempengan alumunium dalam berbagai ukuran dan bentuk tapi tidak terlalu banyak. Rupanya mobil ini dibuat dengan bahan yang sama dengan pembuat pesawat.

Semua proses produksi dilakukan dengan system robotic. Sentuhan tangan manusia hanya untuk keperluan pengecekan. Pengecekan kualitas juga dilakukan dengan komputer yang dilengkapi 6 kamera. Ada 156 titik yang harus diteliti satu per satu. Petugas hanya melihat dari layar monitor dan dan memberi tanda tik pada formulir jika satu titik telah selesai diperiksa. Sehingga begitu mobil selesai di bagian akhir proses produksi, mobil sudah dalam keadaan Zero Defect (tanpa cacat). Hanya diperlukan waktu 38 jam untuk memproduksi sebuah Jaguar dari awal sampai bisa meluncur di jalanan.

Tidak adanya tumpukan material karena penerapan konsep Just in Time (JIT), dimana material di-supply jika sudah diperlukan saja. Di setiap tahap proses produksi terdapat rak material dan petugas tinggal memencet tombol yang terdapat di setiap kotak material ,kemudian bagian logistik akan segera datang mengisi kotak tersebut.

Satu hal yang menarik dari produksi Jaguar adalah setiap mobil yang dibuat memiliki spesifikasi yang berbeda dari yang lain, bahkan pelanggan bisa ikut dalam proses perancangan mobil seprti apa yang diinginkannya. Setiap mobil adalah unik. Untuk setiap mobil yang dibuat ada sebuah kartu kontrol yang ditempelkan di bagian depan seukuran 60 x 40 cm. Kartu ini berisi spesifikasi khusus yang diminta pelanggan termasuk negara tujuan, akan dikirim kemana mobil tersebut dan kapan. Penulis melihat beberapa mobil yang sedang dalam pengerjaan, tertulis negara tujuan German, Switzerland, swedia, Saudi Arabia, dan United States.

Ketika asyik berdiskusi, tiba-tiba ada sirine dan sebagian besar listrik padam. Kami terkejut menyangka da apa, apalagi semua pekerja serentak meninggalkan pekerjaan mereka. Kami mengira terjadi sesuatu, rupanya itu tanda istirahat (coffee break sekitar 10 menit) dan listrik memang dimatikan kalau istirahat untuk penghematan.

Untuk urusan listrik ini, berbeda sekali dengan Indonesia yang tergolong boros memakai listrik. Lihat saja susah payahnya pemerintah mengkampanyekan hemat listrik lewat iklan layanan masyarakat di televise. Himbauan inipun baru mulai gencar setelah sempat terjadi krisis listrik beberapa waktu lalu, sehingga beberapa daerah terpaksa mengalami pemadaman bergilir.

Ketika ada yang bertanya berapa harga sebuah Jaguar yang sedang dikerjakan itu, pemandu yang sudah bekerja di sana selama 50 tahun itu tidak menjawab secara langsung, dengan sedikit tersenyum mengatakan kalau mobil itu dirancang khusus untuk orang yang punya uang berlebihan, seperti bintang sepakbola atau artis terkenal.

Untuk tipe XK misalnya harganya di atas £60,000.00 atau seekitar Rp. 1,08 milliar. jumlah yang cukup untuk membayar tuition fee (uang kuliah) 5 orang untuk sekolah master di UK ini. Setelah mendengar jawaban pemandu tersebut, kosentrasi penulis tidak lagi tertuju pada proses produksi Jaguar yang amazing tersebut, tapi sudah melayang ke Indonesia. Terbayang banyaknya mobil-mobil mewah bersiliweran di jalanan Jakarta, termasuk Jaguar.

Tidak hanya itu, orang kaya Jakarta seringkali memiliki sederetan mobil mewah digarasinya. Mungkin ada yang punya 3, 5 , 7 bahkan mungkin ada yang lebih dari 10, dengan anggota keluarga yang kadang cuma dua, tiga orang.

Dengan harga semahal itu, berapa banyak pengeluaran orang Indonesia untuk mobil mewah ini. Sementara di sisi lain, masih begitu banyak rakyat miskin dan pendidikan masih barang mahal.

Tiba-tiba terlintas di pikiran penulis, mencontoh Gerakan Seribu Minang (Gebu Minang) yang digagas oleh mantan Menko Kesra Azwar Anas. Idenya adalah mengumpulkan uang Rp.1000,00 (seribu) dari setiap orang Minang yang ada di perantauan, sebagai bentuk partisipasi kepada masyarakat. Dana yang terkumpul ternyata cukup besar sehingga Gebu Minang ini bisa mendirikan 40 BPR dalam kurun waktu 10 tahun (1991-2001) yang berjasa memajukan perekonomian rakyak miskin, termasuk di saat krisis ekonomi tahun 1997, dan mungkin sudah bertambah banyak sekarang ini. (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0304/10/opini/249151.htm).

Saat ini Indonesia masih tertinggal dari negara-negara lain dalam persoalan SDM. Alangkah bijaknya jika ada semacam gerakan sosial dari para orang kaya Indonesia yang memiliki “uang berlebihan” itu, dengan menyumbangkan salah satu saja dari deretan mobil mewah mereka.

Dari sumbangan mobil-mobil mewah itu bisa dibentuk Dana Abadi untuk beasiswa misalnya, sehingga bisa mengirim pelajar-pelajar Indonesia untuk bersekolah ke berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu. Seperti apa yang dilakukan oleh Jepang setelah mereka kalah pada PD II di tahun 1945 sehingga mereka cepat bangkit, bahkan termasuk di barisan terdepan dalam hal ilmu dan teknologi. Demikian juga Malaysia di awal tahun 1970-an, sehingga saat ini mereka telah memiliki SDM yang memadai untuk bersaing di tengah kompetisi global dan lebih maju dari Indonesia.

Jika ada 100 orang kaya Indonesia saja yang mau berpartisipasi, merelakan satu Jaguar-nya atau yang sekelas dengan itu tentu akan terkumpul jumlah yang sangat besar. Sebagai hitung-hitungan sederhana 100 x Rp.1,08 M = 108 Milyar. Suatu jumlah yang cukup untuk membiayai setidaknya sekitar 500 (lima ratus) orang untuk sekolah master di luar negeri. Penulis mengambil angka 100 bukannya tanpa alasan, kalau kita lihat daftar pengusaha papan atas Indonesia, paling tidak ada 150 nama ((http://www.tokohindonesia.com/pengusaha/alfabet.shtml), belum diperhitungkan berapa banyaknya pejabat tinggi negara.

Tentu saja dengan catatan uang ini harus dilakelola dengan sangat professional dan bersih. Bukanya untuk dikorupsi seperti lazimnya, dimana setiap ada institusi baru yang didirikan pasti tidak lama kemudian sudah terjangkit virus korupsi. Pengelolaan dana ini mungkin bisa mencontoh apa yang dilakukan oleh Ford Foundation puluhan tahun lalu, dimana sejumlah dana abadi diinvestasikan dan dikembangkan. Itulah sebabnya Ford Foundation dapat terus memberikan beasiswa secara berkelanjutan sampai sekarang.

Mengenai mekanisme penyaluran beasiswa, mungkin bisa bekerja sama dengan lembaga-lembaga yang sudah teruji kredibilitasnya, semisal IIEF (International Indonesian Education Foundation). Organisasi ini sudah dipercaya dan berpengalaman mengelola berbagai macam beasiswa dari berbagai Funding internasional, atau dengan organisasi lainnya.

Sebagai bahan motivasi, selain sebagai bentuk partisipasi membangun masyarakat, mungkin bisa dianggap sebagai jalan untuk membersihkan harta, barangkali saja pernah terambil hak orang lain. Bagi pejabat, barangkali dulu waktu membelinya terpakai uang negara, jadi bisa dianggap sebagai bentuk pengembalian hak rakyat. Selain itu untuk membantu mengurangi kemacetan dan polusi udara di Jakarta yang sudah semakin mengkhawatirkan.

Jadi banyak cara bisa dilakukan untuk turut memajukan bangsa, asalkan ada kesadaran bersama. Tidak harus selalu dalam wujud yang besar, hal-hal kecilpun bisa dilakukan, akhirnya akumulasi dari yang kecil, akan menghasilkan sesuatu yang besar.

Sunday, 17 June 2007

Birmingham Business School Jadi University of Beijing

Jika kita melihat ada perantau Cina di mana-mana, itu bukan barang aneh lagi. Bahkan China Town ada di setiap kota di seluruh dunia. Umumnya perantau Cina ini mendominasi sektor bisnis. Di Indonesia misalnya, pusat-pusat perdagangan didominasi oleh pedagang Cina, sebutlah Mangga Dua dan Glodok. Bahkan sekarang Pasar Tanah Abang yang dulunya adalah wilayah kekuasaan pedagang Minang (Padang), sekarang sudah digantikan oleh mereka.

Dominasi komunitas Cina ini ternyata tidak hanya terjadi di dunia bisnis saat ini, tetapi juga sudah merambah ke bidang pendidikan. Di ngeri Ratu Elizabeth, Inggris, pelajar Cina adalah kontingen pelajar asing terbesar saat ini. Sebagai contoh di University of Birmingham, khususnya Birmingham Business School (BBS), hampir 90 persen pelajarnya berasal dari Cina dan Taiwan.

Sebenarnya pelajar Cina ada di setiap school, akan tetapi Business School adalah pilihan favorite mereka. Saking besarnya jumlah mereka, sampai-sampai university of Birmingham merasa perlu menyediakan accommodation kid berbahasa mandarin. Sehingga sewaktu penulis pertama kali tiba di akomodasi, merasa terkejut mendapati petunjuk koneksi internet yang diberikan berbahasa mandarin.

Di BBS, bahasa Mandarin menjadi bahasa kedua setelah bahasa Inggris. Sehingga ada joke dari teman-teman Indonesia, jika sesama pelajar Cina sudah berkumpul dan mereka berbicara dengan bahasa “langit” mereka, kita sudah seakan-akan berada di University of Beijing saja, bukan di University of Birmingham.

Esensi dari artikel ini sebetulnya bukan soal bahasa Mandarin-nya itu, tetapi penulis mencoba melihat sisi lain dari besarnya jumlah pelajar Cina di BBS ini terhadap kaitannya dengan kondisi perekonomian Cina yang tumbuh fantastis sejak empat tahun belakangan ini.

Saat ini Cina adalah kekuatan eknomi dunia nomor empat di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007, diprediksi sebesar 10%, dan 9,5 % di tahun 2008 nanti. (IMF laporkan Prospek Ekonomi Asia,
(http://www.dwell.de/indonesia/), 12/04/07). Pertumbuhan ekonomi Cina yang menakjubkan ini, bisa terlihat dari tinginya aktivitas bisnis di sana, derasnya arus investasi yang masuk, membanjirnya produk-produk Cina di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu banyak faktor yang menentukan majunya aktivitas bisnis di Cina, salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia. Berbicara mengenai kualitas SDM, tentu ada kaitannya dengan ramainya pelajar Cina yang belajar ke Luar Negeri,

Biasanya jurusan yang menjadi favorite mereka adalah Finance and Investmnt, International Business, Marketing, Accounting and Finance. Jurusan-jurusan yang memang menjadi kunci dalam keberhasilan busines modern. Jadi wajar saja aktivitas bisnis di Cina mengalami kemajuan yang sangat mengesankan karena mereka punya SDM yang cukup dan ahli untuk mendatangkan banyak investasi ke negara mereka, ada tenaga handal untuk membangun network ke seluruh dunia, ada tenaga marketing yang melimpah untuk menciptakan strategi-strategi pemasaran yang tepat dan lain-lain.

Peningkatan kualitas SDM memang mendapat peratian yang serius dari pemerintah Cina. Simak saja pernyataan dari Wakil Presiden Cina, Hu Jintao, pada tahun 2001 dalam pertemuannya dengan pelajar Cina di Inggris, "Overseas students are valuable property of the motherland”.China will work harder to create favorable environment and conditions for them and encourage them to return home and give full play to their talents in the motherland”. (http://www.english.people.com.cn/).
Pemerintah Cina jelas sangat mengapresiasi para pelajar yang sedang bersekolah di luar negeri. Selain itu juga memberi kesempatan berkarir dan berkarya yang seluas-luasnya bagi mereka, sekembalinya ke tanah air.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi, yang bertaraf international juga sudah memasyarakat. Sehingga tidak heran, jika banyak mereka yang belajar ke luar negeri atas biaya sendiri meskipun berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah. Bagi mereka sekolah ke luar negeri tidak diangap barang mewah lagi, tapi kebutuhan.

Simaklah pernyataan seorang pelajar Cina Lin Disheng, 22 , "China is going through a rapid industrialisation process. It's becoming more and more open. Chinese young people like me want to make a contribution to this rapid process. That's why I want to study In the UK - to learn better western technologies and experience the western culture and do the best I can.".(http://news.bbc.co.uk/1/hi/education/4219026.stm).

Pernyataan pelajar tersebut menggambarkan spirit yang sangat tinggi dari seorang warga negara untuk turut menyumbang bagi kemajuan bangsanya.

Sementara Indonesia, keadaannya tentu berbeda. Di BBS sendiri pelajar Indonesia bisa di hitung dengan bilangan jari. Itupun datang ke sini setelah setengah mati mencari beasiswa ke sana kemari. Kalaupun dengan beasiswa ayah bunda, betul-betul berasal dari keluarga elit atau anak pejabat sekelas menteri atau dirjen sebuah departemen.

Bagi keluarga ekonomi kelas menengah, jangan mimpi mau sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri. Banyak kendala yang dihadapi. Pertama, paradigma orang tua Indonesia yang menganggap kuliah ke luar ngeri adlah barang mewah, padahal kalau dihitung-hitung, sebenarnya mereka mampu untuk itu.

Kedua, pandangan kalau S2, S3 itu adalah monopoli dosen. Kalau hanya kantoran biasa atau wiraswasta, sepertinya tidak perlu-perlu amat sekolah S2, S3. Di daerah penulis sendiri misalnya, masih berlaku pandangan tradisional; ketimbang membayar uang sekolah ratusan juta rupiah, lebih baik uang itu dijadikan modal berdagang, lebih jelas dan cepat hasilnya.

Itulah hal-hal negatif yang masih ada di masyarakat Indonesia, sehingga generasi mudanya tidak terlalu termotivasi untuk sekolah ke luar negeri. Sebenarnya sekolah di dalam negeripun tetap ada yang bagus, hanya saja kalau bersekolah di institusi yang berkelas internasional, yang diakui dunia, tentu akan memberi efek psikologis lain. Memberi rasa percaya diri untuk membangun network ke seluruh dunia.

Keadaannya diperparah lagi dengan tidak adanya dukungan dari pemerintah. Meskipun sudah sekolah di luar ngeri, juga tidak ada jaminan akan memperoleh pekerjaan yang layak di Indonesia. Karena itu lebih banyak pelajar Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri setelah menamatkan pendidikannya. Akibatnya Indonesia kehilangan asset yang berharga.

Jadi, jelasl sekali kombinasi antara dukungan pemerintah yang kuat dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat berperan penting dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia di suatu Negara. Usaha dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas dirinya yang dibarengi oleh pemberian kesempatan berkarya yang luas akan memberi percepatan kemajuan yang luar biasa bagi Negara seperti yang terjadi di Cina.

Vima Tista Putriana, Birmingham 17 June 2007

Friday, 15 June 2007

Lost Student

Senin tanggal 24 April 2007 adalah hari pertama aku memulai Pre-Sessional English Course di English for International Students Unit, University of Birmingham (EISU). Sebenarnya, ada waktu Sabtu dan Minggu untuk melakukan survey ke universitas, mencari dimana lokasi aku akan kursus. Tapi Sabtu sudah terlanjur habis seharian berkeliling ke City Center, sementara minggu siang hanya istirahat, karena aku merasa sedikit demam. Sorenya berkumpul dengan dua orang teman Indonesia yang baru datang minggu siang itu, Pak Anto dan Pak Tri .

Sebenarnya aku sudah tanya kepada Elcid, dimana Language Center tempat aku bakal kursus. Tapi dia juga tidak tahu pasti tempatnya. Aku merasa heran juga, kok dia sampai tidak tahu. Bukannya dulu dia juga ikut Pre-Sessional, walaupun yang 6 minggu. Senin pagi jam 8 aku sudah siap mau berangkat ke kampus, tapi Elcid bilang kantor-kantor di sini baru buka setelah jam 9. Jadi kepagian kalau aku berangkat jam segitu.

Kami bertiga mengiyakan saja sarannya. Kami lupa kalau kami belum survey tempat, tapi karena Elcid janji mengantarkan, kami jadi tenang. Karena satu dan lain hal, akhirnya Elcid tidak jadi mengantar. Jadilah kami bertiga mencari-cari tempat kursus dengan susah payah, bertanya ke sana kemari, jelas sekali tampang orang kebingunannya.

Parahnya lagi, di Jakarta tidak diberi tahu, kemana kita harus melapor dulu. Waktu pembekalan keberangkan di Hotel Acasia Kramat, pihak IIEF hanya menekankan hal pertama yang harus dilakukan sesampai di UK adalah melapor ke International Student Office, terus buka Bank Account supaya transfer dana dapat segera di lakukan.

Begitu juga dengan pihak British Council, tidak pernah menginformasikan kalau yang harus ditemui pertama itu pihak pengelola kursus bukan admission office. Jadilah hari itu kami mengurus segala macamnya termasuk membuka bank account.

Kami kesulitan sekali menemukan dimana lokasi EISU. Walapun ada peta di tangan, dan sudah bertanya beberapa kali ke Receptinist di Ashton Building,gedung sentral tempat segala macam office di University of Birmingham, tetap saja kami masih bingung arahnya kemana. Apalagi Pak Anto dan Pak Tri tempat kursusnya tidak sama dengan aku. Mereka harus masuk General English, dan itu adanya di kampus Selly Oak, tambah bingung lagi deh....

Akhirnya kami berpisah. Jadilah aku mencari gedung Westmere tempat EISU, sendirian. Dengan susah payah, berhasil juga aku temukan. Sesampai di dalam, aku melapor ke sekretariat, mereka langsung bertanya apa aku tidak tahu kalau kursus dimulai hari ini jam 9.30 pagi, apa aku tidak di informasikan sejak dari Indonesia. Keterlamabatnku memang cukup lama, kulirik jam sudah pukul12 tepat. Petugas itu, seorang gadis india kecil mungil menyuruh aku menunggu.

Aku mencari tempat duduk di ruang tengah (Westmere memang mirip bangunan rumah ketimbang bangunan kantor. Karena dulunya memang rumah tinggal). Sudah ramai sekali student berkumpul sambil berbincang. Ada yang sambil duduk, ada yang berdiri. Ada juga yang di dalam ruangan kelas. Ada yang berbincang dengan pengajar.

Di salah satu ruang kelas, aku lihat beberapa orang sibuk sekali mempersiapkan beraneka makanan. Ada buah, cake, crips dan lain-lain. Aku duduk di kursi paling pojok sambil memperhatikan mereka satu persatu. Barangkali ada yang bisa aku ajak bicara, untuk sekedar bertanya apa saja yang sudah berlangsung dari pagi tadi, dan apa selanjutnya.

Sudah sepuluh menit lebih aku mengamati sekeliling, tapi semua orang sibuk bicara dengan temannya atau sibuk sendiri. Aku mulai merasa bingung, aku seperti bengong sendiri dan merasa "iri" dengan student lain yang sudah enjoy mengobrol satu sama lain.

Oh..... tiba-tiba ada seorang perempuan berjilbab keluar kelas dan duduk di kursi. Sepertinya dia orang Arab. Hatiku gembira, karena menyangka pasti dia akan langsung menyapa aku dengan sapaan khas muslim " Assalamualaikum", tapi lama aku tatap dia, dan berusaha tersenyum. Dia terlihat cuek saja, sapaan salam yang kuharap tidak keluar dari mulutnya ternyata.

Akhirnya aku beranikan duduk di dekatnya, dan menyapa dia. Ternyata benar dugaanku, dia student dari Saudi Arabia. Aku tanyakan apa yang sudah berlangsung tadi pagi. Dia jawab kalau ada placement test tadi. Mendengar jawabannya,...... tek....ada desir di dadaku. Tiba-tiba hatiku diselimuti rasa penuh sesal. Kenapa sampai datang terlambat. Kenapa aku seceroboh ini.....desisku dalam hati.Aku tiba-tiba merasa sedih sekali.

Kemudian semua orang masuk ke ruangan yang sudah terhidang makanan. Aku ragu untuk ikut masuk. Aku tidak tahu siapa saja yang boleh makan, lalu aku tanya ke salah seorang petugas, rupanya itu jamuan makan siang untuk menyambut para student baru. Jadilah aku ikutan makan seadanya. Salah seorang tutor, yang ternyata bernama Sofia, bertanya apa aku student baru juga, kenapa dia tidak melihat aku dari pagi. Aku jawab iya, dia bertanya alasan kenapa aku terlambat.

Setelah aku jelaskan, dia menginfomasikan kepada temannya yang berambut ikal dan pirang. Temannya bertanya siapa namaku, begitu aku sebutkan, dia langsung berseru " Oh you are the lost student?" Aku kaget dipanggil the Lost Student, kemudian dia mengatakan kalau mendapat telpon dari receptionist di Ashton Building bahwa ada student yang nyasar ke sana. Dia juga mengatakan kalau sudah mengirim petugas ke flat ku untuk menjemput pada jam 10 karena mengira barangkali aku ketiduran.

Mendengar itu, aku merasa semakin menyesal.......kenapa hal pertama yang kulakukan sesampai di sini bukan mencari tempat kursusku dulu. Acara makan siang selesai, aku diberi tahu kalau harus masuk ke kelas BME (Business Management English). Begitu aku membuka pintu, di dalam sudah ada 3 orang student dan tutor yang berusia separuh baya.

Begitu melihatku, tutor itu langsung berseru " You must be Vima..., the lost student". Tek...aku kembali terkaget, tutor ini juga memanggilku the lost student. Placement test dilanjutkan, dan aku hanya dapat mengikuti section reading, dan jadilah panggilanku di sana sbg " the lost student".

Friday, 8 June 2007

Pertemuan Tidak Terduga di Kereta

Dari airport kami naik kereta ke university station. Tidak disangka, di dalam kereta kami bertemu dengan orang British, perempuan 50-an tahun, yang wajahnya pernah aku lihat. Seorang teman yang sedang study di Belanda pernah mengirim fotonya waktu diwisuda di University of Birmingham. Orang yang bersama dia di dalam foto itu, ternyata orang yang aku temui di kereta malam itu.

Dia bicara dengan Kartini, karena kenal juga ternyata. Ketika Kartini memperkenalkan saya sebagai temannya yang baru datang dari Indonesia, saya bilang bahwa saya sudah pernah melihat wajahnya di foto. Dia sangat surprise dan senang sekali.

Jadilah dia sebagai orang British pertama yang me njadi kenalan di UK ini

Sarapan Pertama di UK

Sesampai di University Station, sebenarnya sudah mau langsung ke akomodasi kampus. Tapi senior yg lain (Mas Elcit) bilang kalau dia sudah masak ayam goreng untuk kami. Akhirnya, bermalam di tempat mas Doel saja (IFP fellow cohort IV yang menjemputku ke bandara).

Tapi sayangnya pagi-pagi sekali, sekitar jam 6 mas Doel sudah pergi ke Leeds, salah satu kota di UK dan fitri istrinya ke Manchester bareng Kartini (Fellow cohort IV). Manchester dan Leeds berjarak kira-kira 2 jam perjalanan dengan bus dari Birmingham.


Tepat jam 9, mas Elcid mengajak keluar. Aku pikir kita mau ke pasar untuk beli-beli keperluan dasar seperti piring, gelas, selimut, sepray dan lain-lain. Ternyata tidak. Aku diajak ke rumah kenalannya orang British, namanya Glennis.


Di sana ternyata ada beberapa tamu juga dari internasional student, rata-rata anak Cina dan Taiwan. Maka jadilah sarapan pertamaku di UK bareng orang British. Tapi aku hanya makan roti tawar dan minum orange juice krn muslim tidak bisa sembarang makan, ada aturan syariat yang harus diikuti.

Sekali lagi ada hal yg tak terduga, aku bertemu kembali dgn kenalan baruku, orang British yang aku kenal di kereta semalam di rumah Glennis ini. Diapun kaget sekali, aku sudah ada di pertemuan itu, padahal dia tahu aku baru datang semalam.

Aku pikir, ini awal yang cukup baik di sini.

Siangnya baru ke City Center untuk belanja



Pengalaman Pertama Merasakan Dinginnya UK

Pertama menginjakkan kaki di Birmingham Intrenational Airport, langsung terasa hawa dingin merambat , merasuk sampai ke tulang. Padahal katanya ini sudah masuk musim semi, malahan sudah mau habis, dan sebentar lagi summer.

Tapi kenapa hawanya begini dingin. Serasa tubuh mau membeku.Terlintas kekhawatiran di dalam hati " bagaimana aku akan bisa hidup di tempat sedingin ini, yg hawanya seakan mau membekukan tulang- tulangku"? Ya Allah....., apa aku tidak salah memilih UK sbg tempat studyku?

Begitulah perasaan saat pertama kali menginjakkan kaki di airport