Sunday, 17 June 2007

Birmingham Business School Jadi University of Beijing

Jika kita melihat ada perantau Cina di mana-mana, itu bukan barang aneh lagi. Bahkan China Town ada di setiap kota di seluruh dunia. Umumnya perantau Cina ini mendominasi sektor bisnis. Di Indonesia misalnya, pusat-pusat perdagangan didominasi oleh pedagang Cina, sebutlah Mangga Dua dan Glodok. Bahkan sekarang Pasar Tanah Abang yang dulunya adalah wilayah kekuasaan pedagang Minang (Padang), sekarang sudah digantikan oleh mereka.

Dominasi komunitas Cina ini ternyata tidak hanya terjadi di dunia bisnis saat ini, tetapi juga sudah merambah ke bidang pendidikan. Di ngeri Ratu Elizabeth, Inggris, pelajar Cina adalah kontingen pelajar asing terbesar saat ini. Sebagai contoh di University of Birmingham, khususnya Birmingham Business School (BBS), hampir 90 persen pelajarnya berasal dari Cina dan Taiwan.

Sebenarnya pelajar Cina ada di setiap school, akan tetapi Business School adalah pilihan favorite mereka. Saking besarnya jumlah mereka, sampai-sampai university of Birmingham merasa perlu menyediakan accommodation kid berbahasa mandarin. Sehingga sewaktu penulis pertama kali tiba di akomodasi, merasa terkejut mendapati petunjuk koneksi internet yang diberikan berbahasa mandarin.

Di BBS, bahasa Mandarin menjadi bahasa kedua setelah bahasa Inggris. Sehingga ada joke dari teman-teman Indonesia, jika sesama pelajar Cina sudah berkumpul dan mereka berbicara dengan bahasa “langit” mereka, kita sudah seakan-akan berada di University of Beijing saja, bukan di University of Birmingham.

Esensi dari artikel ini sebetulnya bukan soal bahasa Mandarin-nya itu, tetapi penulis mencoba melihat sisi lain dari besarnya jumlah pelajar Cina di BBS ini terhadap kaitannya dengan kondisi perekonomian Cina yang tumbuh fantastis sejak empat tahun belakangan ini.

Saat ini Cina adalah kekuatan eknomi dunia nomor empat di dunia, dengan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2007, diprediksi sebesar 10%, dan 9,5 % di tahun 2008 nanti. (IMF laporkan Prospek Ekonomi Asia,
(http://www.dwell.de/indonesia/), 12/04/07). Pertumbuhan ekonomi Cina yang menakjubkan ini, bisa terlihat dari tinginya aktivitas bisnis di sana, derasnya arus investasi yang masuk, membanjirnya produk-produk Cina di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.

Tentu banyak faktor yang menentukan majunya aktivitas bisnis di Cina, salah satunya adalah kualitas sumber daya manusia. Berbicara mengenai kualitas SDM, tentu ada kaitannya dengan ramainya pelajar Cina yang belajar ke Luar Negeri,

Biasanya jurusan yang menjadi favorite mereka adalah Finance and Investmnt, International Business, Marketing, Accounting and Finance. Jurusan-jurusan yang memang menjadi kunci dalam keberhasilan busines modern. Jadi wajar saja aktivitas bisnis di Cina mengalami kemajuan yang sangat mengesankan karena mereka punya SDM yang cukup dan ahli untuk mendatangkan banyak investasi ke negara mereka, ada tenaga handal untuk membangun network ke seluruh dunia, ada tenaga marketing yang melimpah untuk menciptakan strategi-strategi pemasaran yang tepat dan lain-lain.

Peningkatan kualitas SDM memang mendapat peratian yang serius dari pemerintah Cina. Simak saja pernyataan dari Wakil Presiden Cina, Hu Jintao, pada tahun 2001 dalam pertemuannya dengan pelajar Cina di Inggris, "Overseas students are valuable property of the motherland”.China will work harder to create favorable environment and conditions for them and encourage them to return home and give full play to their talents in the motherland”. (http://www.english.people.com.cn/).
Pemerintah Cina jelas sangat mengapresiasi para pelajar yang sedang bersekolah di luar negeri. Selain itu juga memberi kesempatan berkarir dan berkarya yang seluas-luasnya bagi mereka, sekembalinya ke tanah air.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan tinggi, yang bertaraf international juga sudah memasyarakat. Sehingga tidak heran, jika banyak mereka yang belajar ke luar negeri atas biaya sendiri meskipun berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah. Bagi mereka sekolah ke luar negeri tidak diangap barang mewah lagi, tapi kebutuhan.

Simaklah pernyataan seorang pelajar Cina Lin Disheng, 22 , "China is going through a rapid industrialisation process. It's becoming more and more open. Chinese young people like me want to make a contribution to this rapid process. That's why I want to study In the UK - to learn better western technologies and experience the western culture and do the best I can.".(http://news.bbc.co.uk/1/hi/education/4219026.stm).

Pernyataan pelajar tersebut menggambarkan spirit yang sangat tinggi dari seorang warga negara untuk turut menyumbang bagi kemajuan bangsanya.

Sementara Indonesia, keadaannya tentu berbeda. Di BBS sendiri pelajar Indonesia bisa di hitung dengan bilangan jari. Itupun datang ke sini setelah setengah mati mencari beasiswa ke sana kemari. Kalaupun dengan beasiswa ayah bunda, betul-betul berasal dari keluarga elit atau anak pejabat sekelas menteri atau dirjen sebuah departemen.

Bagi keluarga ekonomi kelas menengah, jangan mimpi mau sekolah ke luar negeri dengan biaya sendiri. Banyak kendala yang dihadapi. Pertama, paradigma orang tua Indonesia yang menganggap kuliah ke luar ngeri adlah barang mewah, padahal kalau dihitung-hitung, sebenarnya mereka mampu untuk itu.

Kedua, pandangan kalau S2, S3 itu adalah monopoli dosen. Kalau hanya kantoran biasa atau wiraswasta, sepertinya tidak perlu-perlu amat sekolah S2, S3. Di daerah penulis sendiri misalnya, masih berlaku pandangan tradisional; ketimbang membayar uang sekolah ratusan juta rupiah, lebih baik uang itu dijadikan modal berdagang, lebih jelas dan cepat hasilnya.

Itulah hal-hal negatif yang masih ada di masyarakat Indonesia, sehingga generasi mudanya tidak terlalu termotivasi untuk sekolah ke luar negeri. Sebenarnya sekolah di dalam negeripun tetap ada yang bagus, hanya saja kalau bersekolah di institusi yang berkelas internasional, yang diakui dunia, tentu akan memberi efek psikologis lain. Memberi rasa percaya diri untuk membangun network ke seluruh dunia.

Keadaannya diperparah lagi dengan tidak adanya dukungan dari pemerintah. Meskipun sudah sekolah di luar ngeri, juga tidak ada jaminan akan memperoleh pekerjaan yang layak di Indonesia. Karena itu lebih banyak pelajar Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri setelah menamatkan pendidikannya. Akibatnya Indonesia kehilangan asset yang berharga.

Jadi, jelasl sekali kombinasi antara dukungan pemerintah yang kuat dan kesadaran yang tinggi dari masyarakat berperan penting dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia di suatu Negara. Usaha dari masyarakat untuk meningkatkan kualitas dirinya yang dibarengi oleh pemberian kesempatan berkarya yang luas akan memberi percepatan kemajuan yang luar biasa bagi Negara seperti yang terjadi di Cina.

Vima Tista Putriana, Birmingham 17 June 2007

5 comments:

Anonymous said...

bagus sekali tulisan tentang china ini. saya suka dengan tulisan ini. Perlu sebarkan blog vima ini ke milis, biar teman-teman lain bisa kunjungi dan mau belajar juga dari pengalaman ini.

Anonymous said...

baguslah, terus saring pengalaman-pengalaman kecil seperti ini, dan ditunjang oleh data/refensi, sehingga tulisan menjadi bernas

Anonymous said...

Kalau ini agak akademis, maka tulisan ini mau digolongkan apa;comparison contrast, cause effeck atau naratif, atau kombinasi.
Judul dach bagus,atraktif dech, jadi pembaca ingin tahu cerita selanjutnya.Walau memang ada dua tipe besar dalam menulis judul.Mereka yang menulis judul dengan biasa saja....datar datar saja, dan mereka yang menulis judul...atraktif, seksi, dengan gaya bahasa hipete. Tapi terlepas dari itu.., semua khan hanya kulit luarnya saja, yang paling utama adalah tetap saja contentnya..

Anonymous said...

salam..
tulisannya bagus vim..terus menulis ya.nda rugi rasanya memperkenalkan vima ke dunia blogger..:)

H a l l o ! said...

hallo viem, mana tulisannya yg lain? teman-teman Belanda juga baru giat menuhin blog-nya. hobby narsis selain foto2 sudah mulai kumat. ayo ke buyungridwant.blogspot.com